Inflasi Sumut Agustus 2026 Capai 3,23 Persen, Harga Pangan Masih Jadi Tekanan Utama

Bisnis, Sumut6 Dilihat

MEDAN – Tekanan harga di Sumatera Utara masih berlanjut. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan atau year-on-year (y-on-y) Sumatera Utara pada Agustus 2026 mencapai 3,23 persen.

Indeks Harga Konsumen (IHK) meningkat dari 108,51 pada Agustus 2025 menjadi 113,96 pada Agustus 2026. Kenaikan tersebut menunjukkan masyarakat masih menghadapi tekanan harga di berbagai kelompok pengeluaran, meskipun laju inflasi bulanan relatif terkendali.

Kepala BPS Sumatera Utara, Asim Saputra, mengatakan berdasarkan hasil pemantauan perkembangan harga, inflasi tahunan Sumut pada Agustus 2026 tercatat sebesar 3,23 persen.

“Pada Agustus 2026, terjadi inflasi year-on-year sebesar 3,23 persen dengan Indeks Harga Konsumen sebesar 113,96,” ujar Asim di Medan, Selasa (1/9/2026).

Secara bulanan atau month-to-month (m-to-m), inflasi Sumut pada Agustus 2026 tercatat sebesar 0,21 persen. Sementara inflasi sejak awal tahun atau year-to-date (y-to-d) mencapai 1,86 persen.

Harga Pangan Masih Jadi Tekanan

Tekanan inflasi datang dari hampir seluruh kelompok pengeluaran. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi sebesar 3,86 persen dan memberikan andil terbesar terhadap inflasi tahunan, yakni 1,13 persen.

BACA JUGA :  Bertemu Wakajati Sumut, Kakanwil Kemenagsu Jajaki Kerja Sama

Sejumlah komoditas pangan menjadi penyumbang utama kenaikan harga, di antaranya daging ayam ras, ikan segar, minyak goreng, beras, cabai rawit, daging sapi, hingga cabai merah.

Daging ayam ras menjadi salah satu komoditas yang paling menonjol dalam mendorong kenaikan harga.

Selain pangan, tekanan inflasi juga terjadi pada kelompok transportasi yang mengalami inflasi sebesar 4,79 persen, dengan andil terhadap inflasi tahunan sebesar 0,58 persen.

Sementara kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat inflasi tertinggi, yakni mencapai 9,25 persen, dengan kontribusi terhadap inflasi tahunan sebesar 0,63 persen.

Kelompok penyediaan makanan dan minuman atau restoran juga mengalami inflasi sebesar 2,67 persen dan memberikan andil sebesar 0,27 persen.

BACA JUGA :  Kawal Sensus Ekonomi 2026, Wali Kota Medan: Data Yang Terkumpul, Akan Dijadikan Dasar Penyusunan Kebijakan Pemerintah

Meski tekanan harga cukup luas, sejumlah komoditas justru memberikan efek penahan terhadap laju inflasi.

BPS mencatat bawang merah, telur ayam ras, tomat, kelapa, tarif jalan tol, serta uang sekolah SMA menjadi sejumlah komoditas yang menahan laju inflasi tahunan.

Pada Agustus 2026, komoditas yang memberikan tekanan terhadap inflasi bulanan antara lain daging ayam ras, cabai rawit, ikan segar, beras, kacang panjang, buncis, jagung manis, ketimun, semangka, hingga emas perhiasan.

Sebaliknya, bawang merah, tomat, bawang putih, minyak goreng, bayam, tarif angkutan udara, dan bensin menjadi komoditas yang membantu menahan laju inflasi bulanan.

Perbandingan Inflasi Antarwilayah

Perbedaan tekanan harga juga terlihat di berbagai wilayah Indonesia. Maluku Utara mencatat inflasi tahunan tertinggi di tingkat provinsi sebesar 5,28 persen, sedangkan Kalimantan Utara menjadi yang terendah dengan inflasi sebesar 2,17 persen.

Pada tingkat kabupaten dan kota, Kabupaten Kapuas mencatat inflasi tertinggi sebesar 6,20 persen, sementara Kabupaten Morowali menjadi daerah dengan inflasi terendah, yakni 1,22 persen.

BACA JUGA :  Bobby Nasution Ajak Bupati dan Walikota Bergerak Bersama Sukseskan Sensus Ekonomi 2026

Di tengah dinamika tersebut, perkembangan inflasi Sumatera Utara tetap perlu mendapat perhatian serius, terutama karena tekanan harga pangan masih menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi daya beli masyarakat.

Inflasi Inti 2,92 Persen

BPS juga mencatat inflasi komponen inti Sumatera Utara pada Agustus 2026 sebesar 2,92 persen secara tahunan.

Sementara secara bulanan, inflasi inti mencapai 0,21 persen, sedangkan inflasi sejak awal tahun tercatat sebesar 1,97 persen.

Asim menegaskan perkembangan inflasi akan terus dipantau, khususnya terhadap komoditas yang memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan harga konsumen.

“Tingkat inflasi y-on-y komponen inti pada Agustus 2026 tercatat sebesar 2,92 persen, dengan tingkat inflasi m-to-m sebesar 0,21 persen dan tingkat inflasi y-to-d sebesar 1,97 persen,” pungkasnya.