UDA Kenang Kiprah di BEM PT UMSU: Dari Menteri Litbang hingga Master of Training Berbagai Kegiatan Strategis

Medan18 Dilihat

MEDAN – Eka Putra Zakran, S.H., M.H., CDr., yang akrab disapa Ustadz Dunia Akhirat (UDA), mengenang perjalanan organisasinya ketika aktif di Badan Eksekutif Mahasiswa Perguruan Tinggi Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (BEM PT UMSU) periode 2006–2007.

Saat itu, UDA dipercaya mengemban amanah sebagai Menteri yang membidangi Penelitian dan Pengembangan (Litbang) dalam struktur BEM PT UMSU di bawah kepemimpinan Presiden Mahasiswa Rahman Kamal Siregar dan Wakil Presiden Mahasiswa Herdianto Ahmadin.

Kepercayaan tersebut diterimanya setelah sebelumnya aktif sebagai Ketua Bidang Kader dan Alumni PK IMM Fakultas Hukum UMSU hingga akhir 2006.

Menurut UDA, keterlibatannya dalam struktur BEM PT UMSU tidak terlepas dari dinamika politik mahasiswa yang berlangsung sebelumnya. Kala itu, ia bersama Ronal Suhendri maju sebagai pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur Fakultas Hukum UMSU dengan mengusung jargon “Cerdas dan Kreatif” serta membawa Partai Intelektual Muslim (PIM).

Pasangan Eka Putra Zakran–Ronal Suhendri turut mendongkrak perolehan suara PIM yang sebelumnya belum menunjukkan hasil signifikan di lingkungan Fakultas Hukum UMSU. Dukungan terhadap PIM kemudian mulai meningkat dan menyebar ke sejumlah fakultas di lingkungan UMSU.

BACA JUGA :  HUT ke-436 Kota Medan, Rico Waas Tegaskan Infrastruktur, UMKM, Pendidikan dan Lapangan Kerja Jadi Prioritas

Meski dalam hasil akhir penghitungan Komisi Pemilihan Umum Lembaga Aktivitas Mahasiswa (KPU LAM) UMSU, pasangan Eka–Ronal berada di posisi ketiga dari empat pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur Fakultas Hukum UMSU, pengalaman tersebut justru menjadi salah satu momentum penting dalam perjalanan organisasi UDA.

Sebagai kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), UDA mengatakan dirinya tidak pernah menjadikan jabatan sebagai sesuatu yang harus dikejar ataupun diminta. Namun, ketika kepercayaan dan amanah diberikan, ia berupaya menjalankannya dengan penuh komitmen dan tanggung jawab.

“Sebagai kader IMM, saya tidak pernah meminta-minta jabatan. Tetapi ketika diberikan amanah, tentu saya harus berkomitmen menjaga dan menjalankannya dengan sebaik-baiknya sesuai standar dan ketentuan yang telah ditetapkan,” ungkap UDA kepada wartawan, Senin (31/8/2026).

Aktivitasnya di BEM PT UMSU kemudian membuat UDA dipercaya menangani berbagai kegiatan strategis kemahasiswaan. Salah satunya menjadi Master of Training (MoT) dalam kegiatan bakti sosial selama sepekan di Desa Tapak Kuda, Kabupaten Langkat.

Ia juga dipercaya menjadi Master of Training (MoT) MPPMB UMSU serta menjadi Ketua Panitia Latihan Kepemimpinan Mahasiswa (LKM) yang diikuti peserta dari utusan berbagai BEM Fakultas di lingkungan UMSU.

BACA JUGA :  Meriahkan Idul Adha 1445 H, BKAD dan Dishub Pemprov Sumut Sembelih 18 Ekor Sapi

Berbagai kepercayaan tersebut menjadi pengalaman berharga bagi UDA dalam mengembangkan kemampuan kepemimpinan, manajemen organisasi, sekaligus mengelola kegiatan yang melibatkan mahasiswa dari berbagai fakultas.

“Saya juga tidak begitu memahami, mengapa dalam satu tahun kepemimpinan Rahman Kamal Siregar sebagai Presiden Mahasiswa dan Herdianto Ahmadin sebagai Wakil Presiden Mahasiswa kala itu, banyak kegiatan strategis yang dipercayakan kepada saya untuk mengelolanya,” kenang UDA.

Meski demikian, bagi UDA, pengalaman tersebut menjadi bukti bahwa amanah tidak harus dicari. Sebaliknya, kepercayaan yang diberikan harus dijawab dengan kerja nyata dan tanggung jawab.

“Bagi saya, kalau meminta-minta jabatan, tidaklah. Tetapi kalau diberi kepercayaan, kita akan laksanakan dengan jitu. Istilahnya harus MELEJIT,” ujarnya.

UDA menjelaskan, istilah “MELEJIT” yang digunakannya bukan sekadar bermakna menghasilkan sesuatu secara cepat, tetapi menjadi prinsip pribadi dalam menjalankan amanah.

Menurutnya, MELEJIT merupakan akronim dari “melaksanakan dengan jitu, tuntas, terukur dan terarah.”

BACA JUGA :  AdNI Jajaki Kolaborasi dengan Dinkes Sumut, Siapkan Bakti Sosial Kesehatan

“Bagi saya, MELEJIT itu adalah melaksanakan dengan jitu, tuntas, terukur dan terarah,” tegasnya.

Pengalaman berorganisasi selama menjadi mahasiswa, lanjut UDA, menjadi bagian penting dalam proses pembentukan karakter dan kepemimpinannya hingga saat ini.

Pengalaman mengelola kegiatan, memimpin kepanitiaan, hingga dipercaya menjadi Master of Training dinilainya sebagai modal berharga dalam membentuk kemampuan bekerja secara sistematis, mengelola sumber daya dan menjalankan tanggung jawab organisasi.

Kini, UDA dikenal sebagai praktisi hukum, akademisi dan aktivis organisasi. Ia merupakan kandidat doktor hukum pada Pascasarjana UIN Sumatera Utara Medan serta dipercaya mengemban amanah sebagai Koordinator Bidang Hukum, HAM, LHKP dan LBH-AP PDM Kota Medan.

Menurut UDA, pengalaman di dunia kemahasiswaan tidak semata-mata menjadi cerita nostalgia masa lalu. Lebih dari itu, pengalaman tersebut merupakan bagian dari perjalanan panjang yang mengajarkan arti penting amanah, kepemimpinan, tanggung jawab dan konsistensi dalam bekerja.

“Jabatan itu amanah. Yang paling penting bukan seberapa tinggi posisi yang kita duduki, tetapi seberapa baik kita melaksanakan kepercayaan yang diberikan,” pungkas UDA. (r/isl)