Kapal Tenggelam Gara-Gara Awak Lupa Menutup Satu Pintu, 231 Orang Tewas

Ragam7 Dilihat

Jakarta — Tragedi tenggelamnya kapal feri MS Herald of Free Enterprise menjadi salah satu bencana maritim paling memilukan dalam sejarah Eropa. Kapal roll-on/roll-off (RO/RO) tersebut terguling hanya beberapa menit setelah meninggalkan Pelabuhan Zeebrugge, Belgia, pada 6 Maret 1987. Tragedi itu menewaskan 231 orang.

Dikutip dari makalah The Herald of Free Enterprise Tragedy karya Christopher Pope dari Memorial University of Newfoundland, St. John’s, kecelakaan tersebut menjadi salah satu contoh buruk kegagalan prosedur keselamatan yang diperparah oleh desain kapal.

Peristiwa bermula ketika kapal bersiap meninggalkan Zeebrugge menuju Dover, Inggris. Karena terdapat perbedaan ketinggian antara ram pemuatan di pelabuhan dan dek kapal, bagian haluan kapal sebelumnya diisi air agar posisinya turun dan sejajar dengan ram pemuatan.

Setelah proses pemuatan kendaraan selesai, kapal seharusnya menutup pintu haluan sebelum berlayar. Namun, asisten kapal yang bertugas menutup pintu tersebut tertidur di kamarnya dan tidak mendengar alarm keberangkatan.

BACA JUGA :  Nagasari Olahan Rumahan di Sumenep Tetap Diminati Masyarakat

Pada saat yang sama, petugas lain meninggalkan dek lebih awal untuk kembali ke anjungan. Tidak ada pemeriksaan terakhir yang memastikan pintu haluan telah tertutup.

Akibatnya, kapal meninggalkan pelabuhan dengan pintu haluan masih terbuka lebar.

Posisi haluan yang masih rendah membuat pintu tersebut berada sangat dekat dengan permukaan air. Ketika kapal mulai bergerak, air laut dengan cepat masuk ke dek kendaraan.

Dalam hitungan menit, air yang masuk menyebabkan kapal kehilangan stabilitas. Kapal sempat miring sekitar 30 derajat ke sisi kiri sebelum akhirnya kembali tegak untuk sesaat. Namun, air yang terus menggenangi dek membuat kapal kembali kehilangan keseimbangan hingga akhirnya terguling sekitar 90 derajat.

BACA JUGA :  Dampak Perang AS-Iran, Harga Kondom Naik

Tragedi itu terjadi hanya sekitar empat menit setelah kapal meninggalkan pelabuhan.

231 Orang Tewas

Bencana tersebut menewaskan sedikitnya 193 penumpang dan 38 anggota awak, sehingga total korban jiwa mencapai 231 orang.

Kondisi semakin parah karena air laut yang sangat dingin. Sejumlah korban meninggal akibat tenggelam dan hipotermia. Banyak penumpang bahkan tidak sempat menyelamatkan diri karena kapal terguling dengan sangat cepat.

Penyelidikan resmi kemudian menyimpulkan bahwa kecelakaan tidak semata-mata disebabkan oleh satu kesalahan individu. Tragedi tersebut merupakan kombinasi antara human error, kegagalan prosedur keselamatan, komunikasi yang buruk, serta desain kapal yang rentan terhadap masuknya air dalam jumlah besar ke dek kendaraan.

BACA JUGA :  Bunda Yin Terima Buku Sejarah Perjuangan Pematang Siantar, Ajak Masyarakat Jaga Warisan Bangsa

Kelalaian awak kapal yang tidak memastikan pintu haluan tertutup menjadi pemicu langsung. Namun, sistem keselamatan yang memungkinkan kapal berangkat tanpa adanya pemeriksaan atau indikator yang memastikan pintu tersebut tertutup juga menjadi faktor penting.

Tragedi MS Herald of Free Enterprise kemudian menjadi pelajaran besar bagi industri pelayaran dunia. Peristiwa ini menunjukkan bahwa kesalahan yang tampak sederhana—seperti lupa memastikan sebuah pintu tertutup—dapat berubah menjadi bencana besar ketika tidak ada sistem keselamatan yang mampu mencegah atau mengoreksinya.

Kecelakaan tersebut juga menjadi pengingat bahwa keselamatan transportasi tidak boleh bergantung pada satu orang atau satu prosedur semata. Sistem harus dirancang sedemikian rupa sehingga kesalahan manusia dapat dideteksi dan dicegah sebelum menimbulkan korban jiwa. (bc/isl)