Dampak Perang AS-Iran, Harga Kondom Naik

Internasional, Ragam145 Dilihat

JAKARTA- Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran tidak hanya mengguncang sektor energi, tetapi juga mulai berdampak pada kebutuhan sehari-hari, termasuk harga kondom yang diperkirakan akan melonjak hingga 30 persen.

Perusahaan produsen kondom terbesar di dunia, Karex, memperingatkan bahwa harga produknya berpotensi naik signifikan jika konflik terus mengganggu pasokan bahan baku. CEO Karex, Goh Miah Kiat, mengungkapkan bahwa biaya produksi meningkat tajam sejak konflik memanas, terutama karena ketergantungan pada bahan turunan minyak seperti amonia dan pelumas berbasis silikon.

Gangguan rantai pasok ini berkaitan erat dengan situasi di Selat Hormuz, jalur strategis yang selama ini dilalui sekitar seperlima pasokan minyak mentah dan gas alam cair dunia. Ancaman terhadap kapal-kapal yang melintas di kawasan tersebut menyebabkan distribusi energi terganggu dan berdampak langsung pada industri global.

BACA JUGA :  Kapal Tanker Thailand Lolos dari “Zona Panas” Hormuz, Tanpa Biaya!

Karex sendiri memproduksi lebih dari lima miliar kondom setiap tahun dan memasok berbagai merek internasional serta sistem kesehatan publik di berbagai negara. Selain kenaikan biaya bahan baku, perusahaan juga menghadapi lonjakan permintaan sekitar 30 persen sepanjang tahun ini, ditambah dengan biaya logistik yang semakin tinggi.

Menurut Goh Miah Kiat, ketidakpastian ekonomi global justru mendorong peningkatan penggunaan alat kontrasepsi. Banyak masyarakat memilih menunda memiliki anak karena kekhawatiran terhadap kondisi finansial di masa depan.

BACA JUGA :  Rusia Tembak Jatuh 34 Drone Bom Ukraina

“Di masa sulit, kebutuhan kondom menjadi lebih penting karena orang tidak yakin dengan kondisi ekonomi mereka ke depan,” ujarnya, Senin (27/4/2026).

Dampak konflik AS-Iran tidak berhenti pada industri kondom. Sejumlah sektor lain juga ikut terdampak, mulai dari kenaikan harga energi, tarif penerbangan, hingga biaya pupuk dan bahan pangan. Bahkan, kelangkaan helium mulai dirasakan dan berpotensi mengganggu industri semikonduktor.

Di kawasan Asia, termasuk Indonesia, kenaikan harga plastik mulai dirasakan pelaku usaha, khususnya UMKM yang bergantung pada bahan tersebut untuk kemasan produk. Kondisi ini memaksa sebagian pelaku industri mencari alternatif, seperti penggunaan bahan kertas atau solusi yang lebih ramah lingkungan.

BACA JUGA :  PM Italia Peringatkan Ancaman Krisis Energi Imbas Konflik Timur Tengah

Produsen besar seperti Mitsubishi Chemical dan Sanipak bahkan dikabarkan tengah mempertimbangkan kenaikan harga produk hingga sekitar 30 persen akibat lonjakan biaya bahan baku.

Situasi ini menunjukkan bahwa konflik geopolitik global memiliki dampak luas hingga ke kebutuhan dasar masyarakat. Jika ketegangan terus berlanjut, kenaikan harga berbagai barang konsumsi diperkirakan akan semakin sulit dihindari. (t/isl)