Menggembirakan Muktamar dari Daerah Penyangga: Enam PDM Mulai Menyatukan Langkah

Kolom37 Dilihat

Oleh: Jufri

Ketua PD Muhammadiyah Kota Tebing Tinggi

 

Meski sudah direncanakan sejak beberapa bulan lalu, Alhamdulillah, pada Minggu sore hingga malam, bertempat di Kopi Literasi, Sei Rampah, Serdang Bedagai, pertemuan perdana PDM penyangga Muktamar ke-49 Muhammadiyah dan Aisyiyah akhirnya dapat dilaksanakan. Pertemuan ini merupakan bentuk nyata kontribusi Muhammadiyah di daerah penyangga untuk menyukseskan sekaligus menggembirakan Muktamar di Tanah Deli tersebut.

Enam PDM yang diproyeksikan menjadi daerah penyangga Muktamar adalah Langkat, Binjai, Medan, Deli Serdang, Serdang Bedagai, dan Tebing Tinggi. Keenamnya memiliki karakter, potensi, pengalaman, dan kekuatan masing-masing.

Memang, dalam pertemuan perdana tersebut baru empat PDM yang dapat hadir, yakni PDM Binjai, Medan, Serdang Bedagai, dan Tebing Tinggi. Sementara PDM Langkat dan Deli Serdang belum dapat bergabung karena pada waktu yang sama memiliki agenda di daerah masing-masing.

Bagi saya, ketidakhadiran dua PDM tersebut bukanlah persoalan. Sebab sebuah gerakan tidak harus menunggu semua orang hadir untuk memulai langkah. Yang terpenting, niat baik sudah diwujudkan dalam tindakan.

Dan langkah itu telah dimulai.

Pertemuan berlangsung dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan. Tidak terlalu formal. Kami berbincang, bertukar pikiran, menikmati kopi, sekaligus mencoba membaca peluang apa saja yang dapat dilakukan bersama untuk menyambut Muktamar ke-49 Muhammadiyah dan Aisyiyah.

Ada gagasan untuk membuat kegiatan bersama yang dirangkaikan dengan Milad Muhammadiyah ke-114. Salah satunya berupa pengajian dengan menghadirkan pimpinan pusat Muhammadiyah sebagai pembicara dan melibatkan warga Muhammadiyah dari enam daerah penyangga.

Gagasan tersebut tentu menarik. Tetapi menurut saya, yang jauh lebih penting adalah semangat di balik kegiatan itu.

Jangan sampai Muktamar hanya kita sambut sebagai sebuah perhelatan besar yang membutuhkan persiapan ketika acara berlangsung, kemudian selesai begitu saja setelah Muktamar berakhir.

Muktamar harus meninggalkan jejak.

Ia harus menjadi momentum untuk memperkuat silaturahmi, memperluas jejaring, membangun kolaborasi, mengembangkan potensi daerah, dan menghadirkan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.

BACA JUGA :  Wakil Ketua PDM Medan: Waspadai Perbudakan Digital yang Mengincar Generasi Muda

Apalagi Muktamar ke-49 Muhammadiyah dan Aisyiyah di Sumatera Utara mengusung tema “Cerdas Bangsa, Semesta Bercahaya.”

Tema ini menurut saya memiliki pesan yang sangat dalam.

Membangun bangsa yang cerdas tidak cukup hanya dengan mencerdaskan intelektualitas. Kecerdasan harus melahirkan kemampuan membaca zaman, menyelesaikan persoalan, membangun peradaban, dan menghadirkan kemaslahatan.

Sementara “semesta bercahaya” mengandung harapan agar kecerdasan dan kemajuan itu tidak berhenti pada diri sendiri atau kelompok sendiri, tetapi memberikan cahaya dan manfaat yang lebih luas bagi kehidupan.

Di sinilah semangat Islam Berkemajuan menemukan relevansinya.

Islam Berkemajuan bukan sekadar slogan. Ia adalah cara pandang bahwa Islam harus menjadi kekuatan yang mendorong kemajuan kehidupan melalui ilmu pengetahuan, pendidikan, akhlak, amal sosial, kemandirian ekonomi, keadilan, dan kebermanfaatan.

Muhammadiyah sejak awal telah menunjukkan bahwa keberagamaan tidak harus menjauhkan manusia dari kemajuan. Sebaliknya, iman harus mendorong manusia untuk terus belajar, bekerja, berinovasi, membangun peradaban, dan memberikan manfaat bagi sesama.

Karena itu, saya melihat persiapan menuju Muktamar seharusnya juga menjadi bagian dari upaya menerjemahkan Islam Berkemajuan dalam kehidupan nyata.

Jangan hanya menggembirakan Muktamar dengan kemeriahan acaranya. Mari menggembirakannya dengan lahirnya gagasan, kolaborasi, inovasi, dan pemberdayaan.

Di sinilah saya tertarik dengan gagasan Ahmad Zaki, Bendahara PDM Serdang Bedagai, yang mendorong agar momentum Muktamar tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi juga diarahkan pada pemberdayaan UMKM dan ekonomi masyarakat.

Menurut saya, gagasan seperti ini sejalan dengan watak Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah yang tidak hanya berbicara di ruang-ruang pengajian.

Sejak awal, Muhammadiyah membangun dakwah melalui pendidikan, kesehatan, pelayanan sosial, ekonomi, pemberdayaan masyarakat, dan berbagai amal usaha lainnya.

Dakwah tidak selalu harus berbentuk ceramah.

Ketika seorang pelaku UMKM mendapatkan pendampingan, ketika masyarakat memiliki kesempatan mengembangkan usaha, ketika anak-anak memperoleh pendidikan yang lebih baik, ketika orang sakit mendapatkan pelayanan kesehatan, sesungguhnya dakwah sedang bekerja dalam bentuk yang nyata.

Karena itu, kesalehan spiritual dan kemandirian sosial-ekonomi tidak seharusnya dipisahkan.

BACA JUGA :  Muhammadiyah dan BCA Syariah Buka Peluang Kerjasama

Pengajian membangun kesadaran. Pendidikan membangun kecerdasan. Pemberdayaan membangun kemandirian. Dan semuanya dapat menjadi bagian dari dakwah yang membumi.

Ahmad Zaki menyampaikan bahwa PDM Serdang Bedagai saat ini turut dilibatkan dalam pengurusan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan koperasi, di samping berbagai usaha yang digagasnya. Pengalaman tersebut tentu dapat menjadi pintu masuk untuk membangun kerja sama yang lebih luas antar-daerah penyangga.

Bayangkan jika potensi enam PDM dapat disatukan.

UMKM dapat saling terhubung. Amal usaha dapat membangun jejaring. Kader dapat saling belajar. Masjid dapat menjadi ruang pemberdayaan. Dan berbagai potensi ekonomi lokal dapat dikembangkan melalui kerja sama.

Inilah sesungguhnya makna kolaborasi.

Kita tidak harus memiliki semuanya sendiri. Kita cukup menyadari bahwa setiap daerah memiliki kekuatan yang berbeda. Tugas kita adalah menemukan titik temu dari berbagai kekuatan tersebut agar menjadi energi bersama.

Sekretaris PDM Medan, Ibrahim Nainggolan, juga mengingatkan pentingnya koordinasi berkelanjutan dengan panitia Muktamar dan Rektor Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU).

Saya kira, koordinasi seperti ini memang harus dibangun sejak sekarang.

Muktamar bukan pekerjaan satu dua orang. Ia adalah pekerjaan kolektif. Karena itu, semakin banyak potensi yang dapat dihubungkan, semakin besar pula peluang Muktamar ini memberikan dampak yang luas.

Enam PDM penyangga memiliki karakter dan potensi masing-masing. Medan memiliki kekuatan sebagai pusat aktivitas dan jaringan. Deli Serdang memiliki potensi wilayah dan sumber daya. Serdang Bedagai memiliki potensi ekonomi dan masyarakat. Binjai memiliki karakter perkotaan yang khas. Langkat memiliki wilayah yang luas dengan beragam potensi. Sementara Tebing Tinggi memiliki posisi strategis sebagai salah satu wilayah penghubung di Sumatera Utara.

Jika semuanya dapat berjalan bersama, maka yang sedang dibangun bukan hanya kesiapan menyambut Muktamar.

Kita sedang membangun ekosistem gerakan Muhammadiyah.

Dan ekosistem gerakan jauh lebih panjang umurnya dibandingkan sebuah event.

Sebuah acara mungkin selesai dalam hitungan hari. Tetapi jejaring yang lahir dari acara tersebut dapat bertahan bertahun-tahun.

BACA JUGA :  Melalui BTM, Muhammadiyah Perkuat Dakwah Ekonomi

Karena itu, pertemuan sederhana di Kopi Literasi Sei Rampah ini jangan dilihat hanya sebagai pertemuan biasa.

Ada silaturahmi di dalamnya. Ada gagasan. Ada semangat kolaborasi. Dan yang paling penting, ada kesadaran bahwa Muktamar ke-49 adalah momentum bersama.

Pertemuan tersebut kemudian ditutup dengan salat berjamaah di Masjid Taqwa Muhammadiyah Sei Rampah.

Sebuah penutup yang sederhana, tetapi terasa sangat bermakna.

Sebab gerakan sebesar apa pun tetap harus berangkat dari niat yang baik, kebersamaan, dan kesadaran bahwa apa yang kita lakukan pada akhirnya adalah bagian dari pengabdian.

Hari ini baru empat PDM yang bisa duduk bersama. Dua lainnya belum dapat hadir. Tidak perlu dipersoalkan.

Sebab langkah pertama memang tidak harus sempurna.

Yang penting, langkah itu sudah dimulai.

Semoga pertemuan perdana ini menjadi awal dari pertemuan-pertemuan berikutnya. Semoga enam PDM penyangga benar-benar dapat menjadi enam kekuatan yang saling menopang dalam menyukseskan dan menggembirakan Muktamar ke-49 Muhammadiyah dan Aisyiyah di Tanah Deli.

Sebab Muktamar pada akhirnya bukan hanya tentang bagaimana kita menyambut para tamu yang datang ke Sumatera Utara.

Lebih dari itu, Muktamar adalah tentang apa yang kita bangun bersama sebelum ia dimulai, apa yang kita kerjakan dengan penuh kegembiraan ketika ia berlangsung, dan apa yang kita tinggalkan setelah ia selesai.

Jika setelah Muktamar silaturahmi kita semakin kuat, kolaborasi semakin luas, ekonomi umat semakin berdaya, kader semakin terkoneksi, pendidikan semakin maju, dan dakwah Muhammadiyah semakin dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, maka sesungguhnya kita tidak hanya berhasil menyelenggarakan sebuah Muktamar.

Kita telah ikut menerjemahkan semangat Islam Berkemajuan.

Kita telah ikut mewujudkan cita-cita “Cerdas Bangsa, Semesta Bercahaya.”

Dan mungkin, di situlah makna sesungguhnya dari menggembirakan Muktamar: bukan sekadar membuat acaranya meriah, tetapi membuat cahaya Muktamar tetap menyala setelah Muktamar itu sendiri selesai.

Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni