MUKTAMAR NU: REKOMITMEN KOLEKTIF MENGHIDUPKAN WARISAN PARA NABI

Kolom26 Dilihat

Oleh: Prof. Dr. Arifuddin Muda Harahap, M. Hum (Ketua PW ISNU Sumatera Utara)

Marilah kita memanjatkan doa semoga Muktamar NU ke-35 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambak Beras, Jombang, berlangsung lancar, aman, khidmat, dan penuh keberkahan.

Bagi warga Nahdlatul Ulama, Muktamar bukan sekadar momentum memilih pimpinan baru PBNU. Lebih dari itu, Muktamar adalah ruang untuk melakukan refleksi dan rekomitmen kolektif: bagaimana NU harus hadir lebih cepat membaca perubahan, lebih tepat menjawab persoalan, lebih inovatif menemukan solusi, dan lebih nyata memberi manfaat bagi umat, rakyat, dan bangsa.

Rasulullah Saw. bersabda, khairunnâsi anfa’uhum linnâs—sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya. Maka, jika prinsip ini kita bawa ke dalam kehidupan organisasi, dapat dikatakan: sebaik-baik perkumpulan adalah perkumpulan yang paling besar manfaatnya bagi umat dan masyarakat.

Karena itu, keberhasilan NU tidak semata-mata diukur dari besarnya struktur, banyaknya kegiatan, atau ramainya forum. Ukuran yang lebih penting adalah seberapa jauh NU hadir menjawab persoalan nyata dan menghadirkan kemaslahatan.

Menghidupkan Warisan Para Nabi

Nahdlatul Ulama berarti kebangkitan para ulama. Dalam tradisi Islam dikenal ungkapan al-‘ulamâ’u waratsatu al-anbiyâ’—ulama adalah pewaris para nabi.

Maka NU semestinya tidak hanya menjadi tempat berhimpunnya para ulama, tetapi juga menjadi ruang kolektif untuk menghidupkan nilai dan kerja-kerja kenabian dalam kehidupan nyata.

BACA JUGA :  Guru dan UU: Menyingkap Hakikat Profesi Keguruan

Para nabi tidak hadir hanya untuk menyampaikan nasihat. Mereka hadir di tengah umat, membaca persoalan, memberi petunjuk, menghadapi ketidakadilan, menawarkan solusi, dan menggerakkan perubahan.

Karena itu, menjadi pewaris nabi berarti hadir ketika umat membutuhkan, berpikir ketika umat mengalami kebuntuan, dan bekerja ketika masyarakat membutuhkan jalan keluar.

Setiap kader NU, apa pun profesi dan bidang keahliannya, memiliki ruang untuk mewarisi semangat tersebut. Kader di bidang pendidikan, ekonomi, hukum, politik, kesehatan, teknologi, pertanian, maupun bidang lainnya dapat menghadirkan nilai-nilai kenabian melalui profesinya.

Dengan demikian, warisan kenabian tidak berhenti sebagai simbol spiritual, tetapi menjadi kerja nyata untuk kemaslahatan umat dan bangsa.

NU Harus “Nongkrongin Umat”

Semangat tersebut harus diterjemahkan dalam bahasa yang sederhana: Nongkrongin Umat, Nungguin Umat, dan Nanyain Umat.

Nongkrongin Umat berarti hadir dan duduk bersama mereka. Nungguin Umat berarti memastikan NU tidak meninggalkan mereka ketika menghadapi persoalan.

Nanyain Umat berarti mau mendengar dan memahami apa yang sesungguhnya mereka butuhkan. Umat tidak cukup dibicarakan dalam rapat. Umat harus ditemui. Tidak cukup dibuatkan program. Umat harus didengarkan.

Karena itu, pimpinan NU tidak boleh hanya merumuskan kebijakan dari ruang kerja, pesantren, atau masjid. Mereka harus turun ke tengah masyarakat: mendengar petani, nelayan, buruh, guru, pelaku usaha kecil, generasi muda, perempuan, dan berbagai kelompok masyarakat lainnya.

BACA JUGA :  KEKUASAAN YANG BELAJAR

Dari sanalah persoalan nyata terlihat. Dari sana pula solusi yang tepat dapat dirumuskan.

Dari Bahtsu al-Masâ’il Menuju Wushûlu al-Hashâ’il

NU memiliki tradisi intelektual yang kuat melalui Bahtsu al-Masâ’il: mengkaji persoalan, membaca turats, menimbang dalil, dan merumuskan keputusan.

Tradisi ini harus dipertahankan. Tetapi tantangan zaman menuntut satu langkah lebih jauh: dari Bahtsu al-Masâ’il menuju Wushûlu al-Hashâ’il.

Tidak cukup hanya pandai merumuskan masalah. Tidak cukup pula menghasilkan keputusan dan rekomendasi. Umat membutuhkan hasil. Umat membutuhkan solusi.

Karena itu, NU harus mampu mengubah ilmu menjadi kebijakan, keputusan menjadi tindakan, dan khidmat menjadi kemanfaatan. Inilah salah satu pekerjaan besar kepemimpinan NU ke depan.

Pemimpin yang Menggerakkan Kolektivitas

Pemimpin NU tentu harus memiliki kedalaman ilmu dan kesalehan. Tetapi itu saja tidak cukup.

NU membutuhkan pemimpin yang mampu membangun kolektivitas, menyatukan potensi, menggerakkan kader, menjembatani perbedaan, dan memastikan keputusan organisasi benar-benar sampai kepada umat.

NU terlalu besar untuk digerakkan oleh satu atau dua orang. NU adalah kekuatan kolektif. Karena itu, yang dibutuhkan bukan sekadar pemimpin yang kuat, tetapi kepemimpinan yang membuat seluruh kader menjadi kuat dan bergerak bersama.

Muktamar, dengan demikian, bukan hanya forum memilih siapa yang memimpin NU. Muktamar adalah forum menentukan arah khidmat NU menghadapi masa depan.

Para kandidat yang muncul tentu merupakan kader terbaik yang lahir dari proses panjang pengabdian. Karena itu, pilihan harus diletakkan di atas kejernihan berpikir, kedewasaan, doa, dan kepentingan yang lebih besar: kemaslahatan NU, umat, rakyat, dan bangsa.

BACA JUGA :  Kepala Kemenag Lampung Serahkan Sertifikat Halal ke Puti Minang

Setelah Muktamar selesai, tidak boleh ada lagi jarak antara yang memilih dan yang terpilih. Tidak ada lagi kubu yang menang dan kalah. Yang ada adalah satu barisan, satu amanah, dan satu tanggung jawab.

Pada akhirnya, warisan para nabi bukan sekadar sesuatu yang kita kenang, tetapi sesuatu yang harus kita hidupkan.

Ilmu harus menjadi amal.
Kesalehan harus menjadi pelayanan.
Keputusan harus menjadi tindakan.
Dan organisasi harus menjadi jalan menghadirkan kemaslahatan.

Mari jadikan Muktamar NU ke-35 sebagai momentum rekomitmen kolektif untuk semakin dekat dengan umat: Nongkrongin Umat, Nungguin Umat, dan Nanyain Umat.

Kita rawat tradisi Bahtsu al-Masâ’il, tetapi kita pastikan ia sampai pada Wushûlu al-Hashâ’il—dari pembahasan menuju hasil, dari keputusan menuju solusi, dari khidmat menuju manfaat.

Sebab NU tidak cukup hanya membicarakan masa depan. NU harus hadir, bekerja, dan ikut menentukan masa depan.

Semoga Allah Swt. memberikan petunjuk dan keberkahan kepada seluruh peserta Muktamar NU ke-35, serta menghadirkan kepemimpinan yang mampu merawat warisan, membaca zaman, menggerakkan umat, dan menghadirkan kemaslahatan bagi agama, bangsa, dan kemanusiaan.

Wallâhu al-Muwaffiq ilâ Aqwamit-Tharîq.