Eka Putra Zakran: Prinsip Kepemimpinan Rasul Adalah Siddiq, Tabligh, Amanah, dan Fatonah

Medan77 Dilihat

Medan — Dr (C) Eka Putra Zakran, SH MH dipercaya menjadi salah satu narasumber dalam Pelatihan Taruna Dasar Melati 1 PR IPM SMP 02 Medan, Kamis (18/6/2026). Dalam kegiatan tersebut, Eka Putra Zakran membawakan materi khusus tentang kepemimpinan kepada para kader Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM).

Pelatihan dasar taruna ini diikuti sekitar 30 peserta yang berasal dari kader-kader IPM, yakni siswa-siswi kelas VII dan VIII SMP 02 milik PCM Pahlawan Perjuangan Medan.

Turut hadir dalam pembekalan materi kepemimpinan tersebut Kepala Sekolah SMP 02 Fahrul Razi bersama sejumlah majelis guru, di antaranya Fikri Hazmi, Muhsin, dan Khairuddin Syahputra. Kehadiran Eka Putra Zakran yang juga Wakil Ketua PDM Medan sekaligus Ketua Umum DPP AdNI disambut hangat oleh pihak sekolah.

BACA JUGA :  Wali Kota Medan & Kakanwil DJP Sumut I Perkuat Sinergi Demi Peningkatan Kepatuhan Pajak

Sebelum menyampaikan materi, pria yang akrab disapa EPZA itu terlebih dahulu memberikan motivasi kepada peserta melalui yel-yel penyemangat.

“Siapa kita?” teriak EPZA.

“IPM, IPM, IPM!” jawab para peserta dengan penuh semangat.

“Ngapain kita?”

“Taruna, Taruna, Taruna!” sahut peserta Taruna Dasar Melati 1.

Dalam pemaparannya, EPZA menjelaskan bahwa pemimpin adalah seseorang yang memimpin, sementara kepemimpinan merupakan kemampuan seseorang dalam menggerakkan, mengendalikan, memengaruhi, serta mengarahkan pikiran orang lain dalam sebuah kelompok atau organisasi.

Menurutnya, kepemimpinan ideal harus meneladani prinsip-prinsip kepemimpinan Nabi Muhammad SAW yang dikenal dengan istilah STAF, yakni Siddik, Tablig, Amanah, dan Fatonah.

BACA JUGA :  Muhardi, Sekjen Baru AdNI: Dari Aktivis Remaja hingga Motor Penggerak Organisasi Advokat

“Seorang pemimpin harus memiliki karakter yang jujur dan benar (siddik), mampu menyampaikan pesan dengan baik (tablig), dapat dipercaya (amanah), serta cerdas dan bijaksana (fatonah),” ujar EPZA.

Lebih lanjut, EPZA menerangkan bahwa fungsi kepemimpinan setidaknya mencakup empat aspek utama, yaitu perencanaan, motivasi, pengorganisasian, dan pengawasan. Dalam ilmu manajemen hal tersebut dikenal dengan konsep POAC (Planning, Organizing, Actuating, dan Controlling).

Ia juga menjelaskan tiga gaya kepemimpinan yang umum dikenal. Pertama, gaya otokratis atau otoritarian yang bersifat sentralistik dan berpusat pada satu tokoh. Kedua, gaya demokratis atau partisipatif yang mengedepankan dialog serta menerima masukan dari anggota. Ketiga, gaya bebas yang memberikan kepercayaan penuh kepada tim atau bawahan.

BACA JUGA :  Muhammadiyah Microfinance Summit III 2024 Hasilkan 7 Rekomendasi

Sementara itu, EPZA menyebut sifat kepemimpinan ideal juga tercermin dalam filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara, yaitu Ing Ngarso Sung Tulodho (di depan memberi teladan), Ing Madya Mangun Karso (di tengah membangun kemauan dan gagasan), serta Tut Wuri Handayani (di belakang memberikan dorongan).

“Pemimpin bukan hanya soal jabatan, tetapi bagaimana mampu menjadi teladan, membangun semangat, dan memberi manfaat bagi orang lain,” pungkas EPZA. (r/isl)