Jakarta – Pemerintah terus memperkuat upaya percepatan penurunan stunting dengan memprioritaskan pemenuhan gizi bagi ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Langkah tersebut menjadi fokus utama karena masih terdapat 8,12 juta Keluarga Berisiko Stunting (KBS) yang membutuhkan intervensi sejak periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).
Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga)/Kepala BKKBN, Wihaji, mengatakan saat ini terdapat 41,43 juta keluarga yang memiliki pasangan usia subur, ibu hamil, ibu menyusui, atau balita. Dari jumlah tersebut, sebanyak 8,12 juta keluarga telah teridentifikasi sebagai Keluarga Berisiko Stunting.
“Besarnya jumlah keluarga yang masuk kategori berisiko menunjukkan pentingnya intervensi sejak awal kehidupan anak. Karena itu, pemenuhan gizi pada periode 1.000 HPK menjadi fondasi utama dalam pencegahan stunting,” ujar Wihaji dalam keterangannya, Rabu (5/8/2026).
Sebagai salah satu langkah strategis, pemerintah memperkuat pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi ibu hamil, ibu menyusui, dan balita non-PAUD atau kelompok 3B. Program ini diharapkan mampu memenuhi kebutuhan gizi kelompok paling rentan sekaligus mencegah stunting sejak dini.
Pelaksanaan MBG tidak hanya berfokus pada penyaluran makanan bergizi, tetapi juga memastikan bantuan diterima oleh sasaran yang tepat. Untuk itu, Kemendukbangga/BKKBN melibatkan 122.108 Tim Pendamping Keluarga (TPK) yang bertugas melakukan verifikasi dan validasi penerima manfaat, memberikan edukasi pola makan sehat, memantau status gizi, serta melakukan pencatatan dan pelaporan.
Di wilayah yang belum terjangkau layanan MBG secara optimal, pemerintah mengembangkan Program Dashat (Dapur Sehat Atasi Stunting). Melalui program ini, kelompok masyarakat, khususnya ibu-ibu yang tergabung dalam Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Akseptor (UPPKA), diberdayakan untuk mengolah makanan bergizi dengan pendampingan tenaga kesehatan dan ahli gizi.
Selain meningkatkan kualitas asupan gizi keluarga, Program Dashat juga diharapkan mampu menggerakkan perekonomian lokal melalui pemanfaatan bahan pangan yang tersedia di lingkungan sekitar.
“Inovasi ini telah diuji coba dan menjadi model alternatif yang efektif untuk memperluas akses pemenuhan gizi di daerah yang belum terjangkau layanan MBG secara optimal,” kata Wihaji.
Pemerintah juga memperkuat kolaborasi dengan masyarakat melalui Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting). Hingga 30 Juli 2026, program tersebut telah menjangkau 732.883 Keluarga Berisiko Stunting, atau sekitar 73,29 persen dari target satu juta keluarga.
Wihaji menegaskan sinergi antara Program MBG kelompok 3B, Program Dashat, Gerakan Genting, serta pendampingan oleh Tim Pendamping Keluarga akan terus diperkuat untuk mempercepat penurunan prevalensi stunting di Indonesia.
“Pendekatan ini tidak hanya berfokus pada penyediaan makanan bergizi, tetapi juga membangun perubahan perilaku keluarga melalui edukasi yang berkelanjutan,” tegasnya. (rm/isl)
