Nasional

Enam Raksasa Sawit Kuasai Jutaan Hektare Lahan Indonesia, Namun Bermarkas di Singapura

JAKARTA – Industri kelapa sawit menjadi salah satu tulang punggung ekspor Indonesia. Namun, di balik besarnya kontribusi sektor ini terhadap perekonomian nasional, terdapat fakta menarik: sejumlah perusahaan sawit terbesar yang mengelola jutaan hektare perkebunan di Indonesia justru mencatatkan saham dan menempatkan kantor pusatnya di Singapura.

Salah satu pemain besar adalah First Resources Limited. Grup yang dikendalikan keluarga Fangiono ini tercatat mengelola sekitar 215.128 hektare lahan sawit di Indonesia hingga akhir 2024. Area perkebunannya tersebar di sejumlah wilayah seperti Riau, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Timur. Salah satu anak usahanya, PT Ciliandra Perkasa, menjadi bagian penting dalam operasional grup tersebut.

Nama besar lainnya adalah Wilmar International Limited, salah satu perusahaan agribisnis terbesar dunia. Wilmar mengelola area tanam sawit mencapai ratusan ribu hektare, dengan sebagian besar berada di Indonesia. Perusahaan ini memiliki operasi yang tersebar di Sumatra dan Kalimantan.

Wilmar bersama Musim Mas Group juga sempat menjadi perhatian terkait penyelidikan pemerintah Indonesia mengenai dugaan praktik under-invoicing dalam ekspor minyak sawit.

Raksasa lainnya adalah Golden Agri-Resources, bagian dari kelompok usaha Sinar Mas. Perusahaan ini mengelola lebih dari setengah juta hektare perkebunan sawit di Indonesia melalui berbagai entitas usaha, termasuk PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (SMART).

Selain itu, Bumitama Agri Limited juga menjadi pemain utama. Perusahaan yang sebelumnya terkait dengan Harita Group tersebut mengelola ratusan ribu hektare perkebunan sawit di Kalimantan dan Riau. Sebagian lahannya dialokasikan untuk program kemitraan bersama petani kecil.

Sementara itu, Asian Agri, bagian dari kelompok usaha Royal Golden Eagle, mengelola sekitar 100 ribu hektare kebun inti di Sumatra Utara, Riau, dan Jambi. Perusahaan ini juga menjalankan pola inti-plasma dengan puluhan ribu petani mitra.

Besarnya penguasaan lahan oleh perusahaan-perusahaan tersebut menunjukkan bahwa struktur industri sawit Indonesia tidak hanya ditentukan oleh perusahaan domestik, tetapi juga oleh grup bisnis yang beroperasi secara global dan banyak menggunakan pusat administrasi maupun pencatatan saham di Singapura.

Kondisi ini menimbulkan perdebatan mengenai tata kelola industri sawit, mulai dari investasi asing, arus keuntungan, transparansi kepemilikan, hingga posisi Indonesia sebagai salah satu produsen minyak sawit terbesar dunia.

Dari keenam raksasa tersebut, perusahaan mana yang paling menentukan masa depan industri sawit Indonesia? (bc