Monitoring dan Evaluasi TEP 2026, Wamen Viva Yoga: Harus Bermuara pada Transformasi Transmigrasi

Nasional18 Dilihat

Jakarta – Wakil Menteri Transmigrasi Viva Yoga Mauladi menegaskan, dinamika yang terjadi dalam pelaksanaan program Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 2026 tidak boleh menyimpang dari output dan target yang telah disepakati.

Menurut Viva Yoga, dinamika program di lapangan merupakan hal yang dapat terjadi karena berbagai faktor, mulai dari aspirasi masyarakat, kondisi sosiologis, klimatologi, topografi, hingga faktor lainnya.

Hal itu disampaikan Viva Yoga saat memberikan arahan dalam kegiatan Monitoring dan Evaluasi Kegiatan TEP 2026 yang diikuti sekitar 150 peserta di Jakarta, Rabu (23/9/2026).

Kegiatan tersebut turut dihadiri para Ketua TEP dan reviewer proposal yang berasal dari 10 perguruan tinggi negeri mitra Kementerian Transmigrasi (Kementrans), yakni Universitas Indonesia, Institut Pertanian Bogor, Institut Teknologi Bandung, Universitas Padjadjaran, Universitas Gadjah Mada, Universitas Diponegoro, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Universitas Airlangga, Universitas Brawijaya, dan Universitas Hasanuddin.

BACA JUGA :  Warga Yokatapa Bahagia Sambut Komsos Habema

Sebagaimana diketahui, pada akhir Juli atau awal Agustus 2026, Kementrans melepas sebanyak 1.476 peserta TEP yang terbagi dalam 246 tim untuk menjalankan program di 53 kawasan transmigrasi.

Para peserta yang terdiri atas guru besar, doktor, magister, dan sarjana tersebut memiliki tugas menghasilkan model, prototipe, desain, serta pendampingan yang dapat diterapkan di kawasan transmigrasi. Mereka juga ditugaskan menyusun rekomendasi kebijakan berdasarkan kondisi yang ditemukan di lapangan.

Viva Yoga mengatakan, dari 246 program yang berjalan, seluruhnya akan melalui proses monitoring dan evaluasi.

“Program-program ini perlu ditelaah secara holistik karena menyangkut banyak aspek,” ujar Viva Yoga.

BACA JUGA :  Hadir di HUT Ke-80 Bhayangkara, Wamen Viva Yoga Dorong Polri Dekat dengan Rakyat dan Jaga Demokrasi

Ia menyebut dinamika yang muncul dalam pelaksanaan program dapat dipengaruhi kondisi sosial maupun faktor lainnya sehingga membutuhkan kajian lebih lanjut.

“Dinamika program bisa terjadi karena alasan kondisi sosial dan faktor lain sehingga perlu kajian lebih lanjut,” tambahnya.

Menurut Viva Yoga, proses monitoring dan evaluasi menjadi momentum untuk membahas, mendiskusikan, sekaligus melakukan review terhadap berbagai perkembangan program yang berlangsung di lapangan.

“Hasil dari kegiatan ini nantinya akan menjadi keputusan bersama,” katanya.

Ia berharap implementasi program yang dilakukan civitas akademika di kawasan transmigrasi dapat mendorong pengembangan kawasan dalam berbagai spektrum, termasuk industrialisasi, peningkatan pendapatan masyarakat, serta penciptaan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi.

Dengan demikian, pengembangan kawasan transmigrasi diharapkan dapat berjalan sesuai dengan target yang telah ditetapkan Kementrans.

BACA JUGA :  Tim Penyidik Jampidsus Sita Barang Bukti Terkait Perkara Impor Gula PT SMIP

“Dari kegiatan ini saya harap ada pandangan baru,” tutur Viva Yoga.

Lebih lanjut, Viva Yoga mendorong agar kehadiran TEP dapat berkesinambungan melalui kolaborasi dan transfer pengetahuan. Menurutnya, keberadaan sumber daya manusia yang memiliki ilmu dan inovasi diperlukan untuk mempercepat transformasi transmigrasi.

“Di lapangan membuktikan ketika ada manusia-manusia unggul di kawasan transmigrasi, di sana ada transfer ilmu pengetahuan, semangat, energi, inovasi, kreasi, dan memberikan nilai yang berbeda dari sebelumnya,” ujarnya.

Viva Yoga menegaskan, seluruh dinamika pelaksanaan TEP 2026 pada akhirnya harus tetap diarahkan untuk mencapai tujuan utama, yakni mempercepat transformasi kawasan transmigrasi dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat. (bc/isl)