KURIMA — Satgas Pamtas RI-PNG Kewilayahan Yonif 645/GTY melalui personel Pos Kurima bersama masyarakat Kampung Anjelma, Distrik Kurima, mendorong penguatan ketahanan pangan berbasis kearifan lokal. Upaya tersebut diwujudkan melalui kegiatan pembukaan lahan perkebunan untuk ditanami ubi jalar dan berbagai jenis sayuran, Jumat (18/9/2026).

Kegiatan yang dilakukan secara gotong royong tersebut menjadi bentuk kebersamaan antara personel TNI dan masyarakat dalam memanfaatkan potensi lahan yang tersedia di wilayah Distrik Kurima.
Personel Pos Kurima mengajak masyarakat untuk membuka dan mengembangkan lahan perkebunan baru dengan areal yang lebih luas. Selain menjaga ketersediaan bahan pangan, hasil perkebunan diharapkan dapat memberikan tambahan pendapatan bagi masyarakat sehingga turut meningkatkan perekonomian keluarga.
Wilayah Papua Pegunungan dinilai memiliki potensi besar dalam pengembangan sektor pertanian dan ketahanan pangan. Dengan optimalisasi sumber daya lahan dan penguatan pangan lokal, masyarakat diharapkan dapat memenuhi kebutuhan pangan secara lebih mandiri dan mengurangi ketergantungan pasokan dari daerah lain.
Ubi jalar menjadi salah satu komoditas pangan penting bagi masyarakat Papua Pegunungan karena telah dikonsumsi secara turun-temurun sebagai makanan pokok selain nasi. Karena itu, pengembangan ubi jalar dan tanaman pangan lokal lainnya dinilai penting dalam memperkuat ketahanan pangan masyarakat.
Namun, tantangan perubahan dan kondisi cuaca ekstrem masih menjadi salah satu kendala dalam sektor pertanian. Kekeringan serta peningkatan suhu dapat berdampak terhadap pertumbuhan tanaman, termasuk ubi jalar, dan berpotensi menyebabkan gagal panen yang pada akhirnya dapat memicu kerawanan pangan.
Dansatgas Pamtas RI-PNG Kewilayahan Yonif 645/GTY, Letkol Inf. Yan Rangga Rahabistara, S.M., menegaskan komitmen TNI untuk terus hadir di tengah masyarakat.
“TNI akan selalu hadir bersama rakyat untuk membantu mengatasi kesulitan rakyat di sekelilingnya.”
Ia juga mengimbau masyarakat agar tidak melakukan pembakaran lahan secara sembarangan, khususnya pada musim kemarau. Menurutnya, pembakaran lahan dapat menyebabkan pencemaran udara, merusak pepohonan, serta mengganggu ekosistem dan habitat satwa.
Sementara itu, salah seorang tokoh masyarakat menyampaikan apresiasi atas keterlibatan personel TNI dalam kegiatan pembukaan lahan perkebunan bersama masyarakat.
“Terima kasih banyak atas kehadiran bapak-bapak TNI untuk bersama-sama membantu membuka lahan perkebunan. Semoga Tuhan Yesus memberkati,” ujarnya.
Kegiatan gotong royong tersebut berlangsung dengan aman dan lancar. Sinergi antara Satgas Pamtas RI-PNG dan masyarakat diharapkan dapat terus berkembang, terutama dalam mendukung kemandirian pangan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat di wilayah Papua Pegunungan.
