MEDAN — Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan. Pada perdagangan Selasa (29/9/2026), rupiah di pasar spot menembus level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS), setelah sebelumnya relatif bertahan di kisaran Rp17.000-an.
Kondisi tersebut mendapat perhatian dari Ketua Perkumpulan Masyarakat Demokrasi 14 Sumatera Utara (PD 14 Sumut) sekaligus Pembina PD Masyarakat Ekonomi Syariah Deli Serdang (PD MES DS), Muhri Fauzi Hafiz.
Muhri mengaku prihatin dan meminta pelemahan rupiah tidak dianggap sebagai kondisi yang biasa.
“Kita terkejut dan prihatin. Setelah sekian lama rupiah bertahan di kisaran Rp17.000 per dolar AS, hari ini 29/9 rupiah jatuh menembus Rp18.000. Jangan dianggap biasa oleh Bank Indonesia dan kelembagaan negara lainnya,” ujar Muhri kepada wartawan di Medan, Selasa (29/9/2026).
Menurut Muhri, pemerintah dan otoritas moneter perlu meningkatkan kewaspadaan, terutama memasuki awal Oktober.
“Kalau terus melemah, kekhawatiran pasar akan semakin besar. Jangan sampai muncul tekanan baru yang membawa rupiah menuju Rp20.000 per dolar AS. Itu harus diantisipasi sejak sekarang,” katanya.
Muhri juga mempertanyakan tekanan terhadap rupiah di tengah kondisi domestik dan sentimen pasar yang, berdasarkan pemberitaan, media sosial, kondisi kenegaraan serta hubungan internasional, dinilainya relatif positif.
Di sisi lain, Bank Indonesia menyebut tekanan terhadap rupiah turut dipengaruhi faktor eksternal, antara lain kenaikan harga minyak dunia, meningkatnya imbal hasil (yield) obligasi AS, kebutuhan valuta asing (valas) domestik, serta arus modal.
BI menyatakan terus melakukan langkah stabilisasi melalui intervensi di pasar valuta asing.
Pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) 22–23 September 2026, BI mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate sebesar 5,75 persen. BI juga menegaskan bahwa kebijakan moneter tetap diarahkan untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan inflasi dalam sasaran 2,5±1 persen.
Muhri menilai koordinasi antara BI dan pemerintah menjadi semakin penting untuk menjaga stabilitas rupiah sekaligus kepercayaan pasar.
“Yang harus dijaga bukan hanya angka rupiah hari ini, tetapi kepercayaan pasar. Jangan menunggu rupiah semakin dalam baru bertindak. Stabilitas rupiah harus dijaga sejak sekarang,” pungkasnya. (r/isl)
