Prof Sulfikar Amir Jelaskan Perbedaan Jenjang Pendidikan Singapura dan Indonesia, Tegaskan Bisa Disetarakan

Nasional, News16 Dilihat

JAKARTA — Akademisi Nanyang Technological University (NTU) Singapura, Prof. Sulfikar Amir, kembali menjelaskan perbedaan sistem dan jenjang pendidikan di Singapura dengan Indonesia. Menurutnya, meskipun memiliki struktur yang berbeda, kedua sistem pendidikan tersebut tetap dapat disetarakan.

Penjelasan itu disampaikan Sulfikar Amir dalam podcast di kanal YouTube Refly Harun. Ia menguraikan tahapan pendidikan di Singapura, mulai dari sekolah dasar hingga persiapan memasuki perguruan tinggi.

Pembahasan tersebut turut menjadi perhatian publik di tengah polemik mengenai ijazah Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dan perdebatan tentang kesetaraan jenjang pendidikan antara kedua negara.

“Pendidikan Singapura itu agak berbeda dengan Indonesia, walaupun tidak berarti tidak bisa disetarakan,” kata Sulfikar Amir, sebagaimana dikutip pada Sabtu (24/10/2026).

Sekolah Dasar Sama-Sama Enam Tahun

Sulfikar Amir menjelaskan, pendidikan formal di Singapura dimulai dari primary school, yang setara dengan sekolah dasar (SD) di Indonesia. Jenjang pendidikan ini ditempuh selama enam tahun.

BACA JUGA :  Solusi Masalah Stunting, Presiden Prabowo Tegaskan Komitmen Program MBG yang Kini Jangkau Lebih dari 60 Juta Penerima Manfaat

“Kalau kita lihat anak-anak Singapura itu memulai pendidikan formal di jenjang primary school atau kalau kita sekolah dasar itu masanya enam tahun,” jelasnya.

Perbedaan mulai terlihat pada jenjang pendidikan berikutnya. Di Indonesia, siswa umumnya melanjutkan pendidikan ke sekolah menengah pertama (SMP) selama tiga tahun.

Sementara itu, Singapura menerapkan jenjang secondary school yang umumnya ditempuh selama empat tahun. Menurut penjelasan Sulfikar Amir, jenjang tersebut dapat dibandingkan dengan masa pendidikan SMP hingga kelas X atau kelas 1 SMA di Indonesia.

Lulusan Secondary School Mengikuti Ujian GCE O-Level

Pada akhir jenjang secondary school, siswa mengikuti ujian yang dikenal sebagai Singapore-Cambridge General Certificate of Education Ordinary Level atau GCE O-Level.

“Lalu kemudian setelah lulus mereka mengambil secondary school ini empat tahun. Ini sama dengan SMP plus satu SMA. Nah, di ujung dari secondary school mereka ambil ujian namanya GCE O-Level,” tuturnya.

BACA JUGA :  Bahas Penistaan Agama, GAPAI dan Bang Zuma Silaturahim Ke MUI

Hasil ujian tersebut menjadi salah satu pertimbangan bagi siswa untuk menentukan jalur pendidikan selanjutnya. Pilihan yang tersedia bergantung pada nilai akademik, minat, serta jalur pendidikan yang ingin ditempuh.

Junior College Menjadi Jalur Menuju Universitas

Sulfikar Amir menjelaskan, siswa yang ingin melanjutkan pendidikan ke universitas dan memiliki capaian akademik yang memadai dapat memilih junior college.

Jenjang ini umumnya ditempuh selama dua tahun dan menjadi jalur persiapan akademik menuju perguruan tinggi. Pada akhir masa pendidikan tersebut, siswa mengikuti ujian GCE A-Level (Advanced Level).

“Setelah lulus O-Level mereka punya dua pilihan berdasarkan nilai dan minat,” paparnya.

Ia melanjutkan, siswa yang ingin melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi dapat memasuki junior college selama dua tahun. Pada akhir jenjang itu, mereka menghadapi ujian A-Level yang menjadi salah satu jalur kualifikasi untuk masuk universitas.

BACA JUGA :  HIMMAH Sumut Apresiasi Kapolri, Terapkan "Scientific Crime Investigation" di Kasus Brigadir Yoshua Hutabarat

“Kalau misal minatnya ingin melanjutkan pendidikan sampai ke universitas dan nilai akademiknya itu cukup baik, maka mereka mengambil junior college ini dua tahun, inilah yang disebut A-Level atau Advanced Level,” terangnya.

Sulfikar Amir menambahkan, ujian pada akhir junior college memiliki tingkat kesulitan yang tinggi dan menuntut kesiapan akademik siswa.

“Di ujung dari junior college ini mereka harus mengambil seperangkat ujian yang super susah,” pungkasnya.

Penjelasan tersebut menggambarkan bahwa sistem pendidikan Singapura memiliki tahapan dan mekanisme seleksi yang berbeda dari Indonesia. Namun, perbedaan struktur itu tidak serta-merta membuat kedua sistem pendidikan tidak dapat dibandingkan atau disetarakan. (bc/isl)