Dedikasi Penyuluh Agama di Pelosok Nias Barat Mendampingi Anak-Anak Bertumbuh dalam Iman

Sumut13 Dilihat

Nias Barat — Di balik jalan yang rusak dan jarak yang harus ditempuh, ada seorang Penyuluh Agama Kristen yang memilih untuk terus melangkah. Duma Indah Sinaga hadir bukan sekadar menyampaikan firman Tuhan, melainkan membangun persahabatan, menanamkan nilai-nilai Kristiani, dan menghadirkan sukacita bagi anak-anak di pelosok Kabupaten Nias Barat.

Tawa dan keceriaan anak-anak memenuhi ruangan Gereja. Di atas meja yang berlapis kain biru, potongan kertas warna-warni, gunting, dan berbagai bahan kerajinan berserakan. Anak-anak tampak sibuk membuat karya sederhana, sesekali bertanya dan berdiskusi dengan teman-temannya. Di antara mereka, Duma hadir mendampingi dengan senyum ramah, menjadikan kegiatan penyuluhan agama Kristen sebagai pengalaman belajar yang menyenangkan.

Bagi Duma, sebagai Penyuluh Agama Kristen pada Kantor Kementerian Agama Kabupaten Nias Barat, menyampaikan firman Tuhan kepada anak-anak bukan sekadar berbicara di depan kelas. Lebih dari itu, ia ingin membantu mereka memahami nilai-nilai Kristiani melalui pengalaman nyata, persahabatan, dan aktivitas yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

“ Saya ingin anak-anak tidak hanya mendengar firman Tuhan, tetapi juga memahami bagaimana menerapkannya dalam kehidupan mereka. Melalui permainan dan kegiatan membuat kerajinan, saya berharap mereka dapat belajar tentang kasih, kejujuran, kepedulian, dan komitmen untuk melakukan kehendak Tuhan,” ungkap Duma.

Lulusan Sekolah Tinggi Filsafat Theologi Jakarta tahun 2019 ini berasal dari Pandan, Kabupaten Tapanuli Tengah. Sejak ditempatkan di Kantor Kementerian Agama Kabupaten Nias Barat, ia menjalani pengabdian sebagai aparatur sipil negara yang baru sekitar satu tahun empat bulan bertugas. Perjalanan tersebut menjadi pengalaman berharga baginya untuk mengenal masyarakat, memahami kebutuhan umat, sekaligus menghadirkan pelayanan keagamaan secara langsung.

BACA JUGA :  Yayasan Tunas Mandiri Langkat Bahas Pembukaan Program SMK Bangunan dan Desain

Menembus Jalan Sulit demi Pelayanan

Duma melaksanakan penyuluhan pada hari Selasa, Kamis, Jumat, dan Minggu. Salah satu wilayah pelayanannya berada di Desa Tugalagawu, Kecamatan Sirombu. Meskipun berjarak hanya sekitar dua kilometer dari tempat tinggalnya, kondisi jalan yang rusak parah menjadi tantangan tersendiri untuk mencapai lokasi penyuluhan.

Namun, ada kisah menarik di balik perjuangannya. Duma baru belajar mengendarai sepeda motor setelah ditempatkan di Nias Barat. Demi menjangkau wilayah pelayanan, ia berusaha belajar secara mandiri hingga akhirnya mampu berkendara dengan lancar.

Pengalaman itu menunjukkan bahwa pengabdian terkadang menuntut keberanian untuk mempelajari hal-hal baru. Baginya, keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berusaha memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.

“Awalnya tentu ada tantangan, apalagi saya harus menyesuaikan diri dengan lingkungan baru dan belajar mengendarai sepeda motor agar bisa menjangkau lokasi penyuluhan. Namun, saya berusaha menjalani semuanya dengan sabar. Saya ingin tetap hadir mendampingi anak-anak dan masyarakat, karena saya percaya pelayanan ini memiliki arti bagi mereka,” tutur Duma.

Selain melaksanakan penyuluhan di wilayah desa, Duma juga melakukan pembinaan di gereja dan sesekali mendatangi sekolah. Salah satu kelompok yang menjadi perhatiannya adalah anak-anak berusia 6 hingga 12 tahun, masa ketika nilai-nilai kehidupan mulai terbentuk melalui pengalaman, teladan, dan lingkungan sekitar.

Belajar Firman Tuhan dengan Sukacita
Dalam kegiatan penyuluhan, Duma memilih pendekatan yang interaktif. Anak-anak diajak bermain, membuat kerajinan, dan menyampaikan komitmen sederhana untuk melakukan kehendak Tuhan dalam kehidupan mereka. Dengan metode ini membuat suasana pembelajaran menjadi lebih hidup.

Mereka tidak hanya duduk mendengarkan penjelasan, tetapi juga terlibat aktif dalam setiap kegiatan. Mereka belajar memahami pesan keagamaan melalui pengalaman yang menyenangkan sekaligus membangun kedekatan dengan teman-teman dan penyuluhnya. Bahkan kegirangan mereka memuncak hanya karna diberi origami oleh Duma, sesuatu yang bernilai kecil dimata orang lain, tapi menjadi sangat berharga di tangan mereka.

BACA JUGA :  Da'i Kamtibmas Polda Sumut Terima Satu Lembu Kurban dari Kapolda Sumut

Duma memposisikan dirinya sebagai sahabat bagi anak-anak. Kedekatan tersebut membantu menciptakan suasana yang nyaman sehingga mereka dapat mengikuti kegiatan dengan gembira. Harapannya, firman Tuhan tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi tumbuh menjadi nilai yang diterapkan dalam tindakan sehari-hari, seperti menghormati orang tua, berkata jujur, mengasihi teman, dan peduli terhadap sesama.

Salah seorang orang tua anak yang mengikuti kegiatan penyuluhan mengungkapkan rasa senangnya karena anaknya mendapatkan pembinaan rohani di luar kegiatan sekolah.

“Sebagai orang tua, saya merasa senang dan bersyukur karena anak saya bisa mendapatkan siraman rohani sekaligus bermain dan mengenal firman Tuhan bersama teman-temannya. Kegiatan seperti ini sangat baik bagi anak-anak. Mereka bisa belajar tentang Tuhan dengan cara yang menyenangkan, sekaligus belajar melakukan hal-hal baik dalam kehidupan sehari-hari. Kami berharap metode penyuluhan seperti ini terus berlanjut,” ungkapnya.

Bagi orang tua, kegiatan tersebut menjadi dukungan dalam mendampingi pertumbuhan iman anak. Pembinaan rohani bukan hanya tanggung jawab keluarga dan gereja, tetapi dapat diperkuat melalui kehadiran penyuluh agama yang memberikan pendampingan secara berkelanjutan.

Pelayanan yang Menghadirkan Dampak
Kehadiran Duma menjadi bagian dari upaya Kantor Kementerian Agama Kabupaten Nias Barat dalam mendekatkan pelayanan keagamaan kepada masyarakat, khususnya umat Kristen yang merupakan mayoritas penduduk di wilayah tersebut.

BACA JUGA :  Kontingen Sumut Boyong 13 Medali pada Olimpiade Madrasah Indonesia 2025

Peran penyuluh agama tidak hanya menyampaikan materi keagamaan, tetapi juga membangun hubungan dengan umat, menanamkan nilai moral, serta mendukung pembentukan karakter generasi muda. Melalui metode penyuluhan yang kreatif dan sesuai dengan usia peserta, pembinaan iman diharapkan dapat menjadi pengalaman yang bermakna bagi anak-anak.
Semangat pengabdian ini sejalan dengan pesan Amsal 22:6 yang mengingatkan umat untuk mendidik orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan tersebut.

Kisah Duma juga memperlihatkan bahwa pelayanan publik yang berdampak tidak selalu hadir melalui kegiatan besar. Terkadang, manfaat itu tumbuh dari pertemuan sederhana, perjalanan melewati jalan yang sulit, dan kesabaran dalam mendampingi anak-anak memahami nilai-nilai kebaikan.

Melalui dukungan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Nias Barat, sinergi dengan gereja, serta keterlibatan orang tua dan masyarakat, pelayanan penyuluhan agama Kristen diharapkan terus berkembang dan menjangkau lebih banyak umat.

Dari meja-meja sederhana yang dipenuhi potongan kertas warna-warni, Duma menanamkan harapan bagi masa depan. Setiap kerajinan yang dibuat anak-anak menjadi bagian dari proses belajar, sementara setiap pesan kebaikan yang disampaikan menjadi benih yang diharapkan bertumbuh dalam kehidupan mereka.

Sebab, pengabdian sejati bukan hanya tentang seberapa jauh perjalanan ditempuh, melainkan tentang seberapa tulus seseorang hadir dan memberikan manfaat bagi sesama. Di pelosok Nias Barat, Duma Indah Sinaga terus melangkah, menyemai firman Tuhan, merawat sukacita anak-anak, dan mengambil bagian dalam membangun generasi yang beriman, berkarakter, serta membawa kasih bagi lingkungan sekitarnya. (r/isl)