JAKARTA — ST Burhanuddin secara resmi membuka kegiatan PERSAJA Literacy Space dalam rangka peringatan Hari Ulang Tahun ke-75 Persatuan Jaksa Indonesia di M Bloc Space, Selasa (28/4/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kapasitas intelektual dan profesionalisme korps Adhyaksa dalam menghadapi tantangan hukum modern.
Dalam sambutannya, Burhanuddin menegaskan bahwa literasi tidak hanya dimaknai sebagai kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga mencakup kemampuan berpikir kritis dalam mengolah informasi secara komprehensif. Ia menyebut PERSAJA Literacy Space sebagai ruang strategis untuk membangun peradaban hukum yang progresif sekaligus menjadi katalis lahirnya jaksa yang berintegritas dan berwawasan global.
“Ini adalah pusat pengembangan pengetahuan hukum progresif sekaligus motor penggerak lahirnya insan Adhyaksa yang unggul,” ujarnya.
Mengusung tema HUT ke-75, “PERSAJA sebagai Hiposentrum Penguatan Kejaksaan RI dalam Mengawal Kedaulatan dan Stabilitas Nasional”, Burhanuddin memaknai hiposentrum sebagai pusat kekuatan yang tidak hanya menopang, tetapi juga menggerakkan organisasi agar menjadi episentrum intelektual dan profesional.
Ia menekankan bahwa tantangan hukum saat ini tidak lagi terbatas pada aspek normatif, melainkan juga pada cara pandang dan kemampuan aparat penegak hukum dalam memahami dinamika informasi yang berkembang pesat.

Dalam kesempatan tersebut, Jaksa Agung juga menyoroti rendahnya tingkat literasi di Indonesia. Berdasarkan data Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, kebiasaan membaca rutin di kalangan anak muda menurun dari 54 persen pada 2015 menjadi 37 persen. Sementara itu, data UNESCO tahun 2024 menunjukkan minat baca di Indonesia masih sangat rendah, yakni hanya 0,001 persen.
“Kondisi ini harus menjadi perhatian bersama. PERSAJA Literacy Space diharapkan mampu mengubah paradigma dan memperkuat kapasitas intelektual jaksa demi meningkatkan kepercayaan publik,” tegasnya.
Sebagai penutup, Burhanuddin mengapresiasi karya buku yang dihasilkan para jaksa sebagai bentuk warisan intelektual sekaligus rekam jejak integritas. Ia menegaskan bahwa peran jaksa tidak hanya terbatas di ruang sidang, tetapi juga harus hadir sebagai pemikir yang aktif membangun wacana hukum.
Kegiatan ini turut dihadiri Ketua Umum PERSAJA Asep N. Mulyana, Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno, jajaran pimpinan Kejaksaan Agung, serta sejumlah narasumber, termasuk penulis nasional Tere Liye. (bc)
