MEDAN — Pemerhati sosial sekaligus tokoh masyarakat M. Arif Tanjung mendorong pelajar meningkatkan literasi digital agar mampu menangkal hoaks, berpikir kritis, dan memanfaatkan kecerdasan buatan atau *artificial intelligence* (AI) secara bijak.
Pesan tersebut disampaikan dalam kegiatan edukasi literasi digital yang diikuti puluhan siswa berprestasi dari SMAN 2 Medan, SMAN 5 Medan, dan SMAN 13 Medan. Kegiatan itu juga dirangkai dengan pemberian tali asih sebagai bentuk kepedulian dan dukungan terhadap generasi muda.
Kegiatan yang dipandu Ratih Danu Warso, S.Pd., M.Pd., tersebut menekankan pentingnya kemampuan memeriksa kebenaran informasi, menggunakan teknologi secara bertanggung jawab, serta memperkuat nasionalisme dan persatuan di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital.
Pemateri Muhammad Safi’i Sitorus, S.H., M.H., mengatakan, kemajuan teknologi harus diimbangi pengetahuan, etika, dan tanggung jawab dalam penggunaannya.
Menurutnya, AI dapat dimanfaatkan untuk mendukung pembelajaran, mengembangkan kreativitas, memperluas wawasan, dan menghasilkan karya produktif. Namun, teknologi tersebut tidak semestinya digunakan untuk membuat atau menyebarkan informasi bohong.
“Gunakan media sosial dengan benar. Manfaatkan AI untuk hal-hal yang positif dan bermanfaat, bukan untuk membuat atau menyebarkan hoaks,” pesannya.
Ia mengingatkan pelajar agar tidak langsung mempercayai informasi yang beredar di media sosial, terutama jika sumber dan kebenarannya belum dapat dipastikan. Siswa perlu memeriksa sumber informasi, membandingkan pemberitaan dari sejumlah media tepercaya, serta memahami konteks sebelum mengambil kesimpulan atau membagikannya kepada orang lain.
Kewaspadaan tersebut semakin penting karena teknologi AI memungkinkan pembuatan teks, gambar, suara, hingga video yang tampak meyakinkan, tetapi belum tentu sesuai dengan fakta.
Sementara itu, Elfenda Ananda, pendiri Suluh Muda Inspirasi sekaligus peneliti FITRA Sumatera Utara, menekankan bahwa literasi digital bukan sekadar kemampuan mengoperasikan perangkat teknologi.
Menurut Elfenda, pelajar juga harus memiliki kemampuan berpikir kritis untuk menilai kredibilitas sumber, membedakan fakta dan opini, serta memahami dampak informasi yang dikonsumsi maupun disebarluaskan.
Ia mendorong generasi muda membiasakan diri melakukan verifikasi sebelum meneruskan informasi agar tidak menjadi bagian dari penyebaran hoaks yang dapat merugikan orang lain dan masyarakat.
M. Arif Tanjung menambahkan, penguatan literasi digital perlu berjalan seiring dengan pembentukan karakter, kepedulian sosial, dan tanggung jawab kebangsaan.
“Generasi muda harus menjadi pengguna teknologi yang cerdas dan bertanggung jawab. Jangan mudah percaya terhadap informasi yang beredar sebelum mengetahui kebenarannya. Periksa sumbernya, pahami konteksnya, dan jangan ikut menyebarkan informasi yang belum terverifikasi,” ujar Arif.
Ia juga mengingatkan pentingnya menerapkan nilai-nilai Sumpah Pemuda dalam kehidupan sehari-hari, termasuk ketika berkomunikasi dan berinteraksi di ruang digital.
Menurutnya, semangat persatuan tidak cukup diwujudkan melalui kegiatan seremonial, tetapi harus tercermin dalam perilaku yang menghormati perbedaan dan menghindari penyebaran informasi maupun ujaran yang berpotensi memecah belah masyarakat.
“Menjaga persatuan bukan hanya dilakukan dalam kehidupan sehari-hari, tetapi juga melalui cara kita berkomunikasi di media sosial. Jangan sampai hoaks dan ujaran yang memecah belah merusak persaudaraan. Generasi muda harus menjadi pelopor penyebaran informasi yang benar dan membawa manfaat bagi masyarakat,” katanya.
Selain edukasi literasi digital, kegiatan tersebut diisi dengan pemberian tali asih kepada puluhan siswa berprestasi dari ketiga sekolah tersebut. Bantuan itu diharapkan menjadi bentuk dukungan bagi pelajar untuk terus meningkatkan prestasi, mengembangkan kemampuan, dan membangun karakter positif.
Arif menilai, pelajar berprestasi merupakan aset penting bagi masa depan bangsa yang perlu mendapatkan perhatian dan dukungan agar mampu berkembang dalam bidang akademik, penguasaan teknologi, serta kepedulian sosial.
“Anak-anak berprestasi ini merupakan aset masa depan bangsa. Mereka perlu terus didukung agar mampu berkembang, menguasai teknologi, memiliki kepedulian sosial, dan tetap berpegang pada nilai-nilai kebangsaan,” tuturnya.
Kegiatan edukasi literasi digital dan pemberian tali asih tersebut turut disponsori Hutajulu Furniture dengan Bhineka News sebagai media partner.
Melalui kegiatan ini, Arif berharap semakin banyak generasi muda yang mampu memanfaatkan AI secara bijak, menangkal hoaks, meningkatkan prestasi, serta menjaga persatuan dan nilai-nilai kebangsaan di tengah perkembangan teknologi.(bj)
