Peringatan Hari Sumpah Pemuda, Prof Saiful Anwar Matondang: Bahasa Indonesia Adalah Kemewahan Bangsa

Nasional8 Dilihat

MEDAN – Salah satu keistimewaan dan kemewahan Indonesia adalah memiliki bahasa persatuan nasional, yaitu Bahasa Indonesia yang berakar dari Bahasa Melayu.

 

Demikian disampaikan Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah I Sumatera Utara, Prof. Saiful Anwar Matondang, Ph.D., dalam dialog ringan bersama pengurus Satu Pena Sumatera Utara di Aula Gedung LLDIKTI Wilayah I, Rabu (28/10/2026).

 

“Bahasa Indonesia memiliki keunikan yang telah distandarisasi berdasarkan tata bahasa yang dikembangkan ilmuwan-ilmuwan Belanda yang tertarik dengan Bahasa Melayu Riau Kepulauan. Inilah yang menjadi dasar kita untuk menjadikan bahasa itu menjadi bahasa nasional, sebagai Bahasa Indonesia,” urai Prof. Saiful.

BACA JUGA :  Ribuan Guru Besar Diundang ke Istana, Prof. Saiful Anwar Matondang: Komitmen Presiden untuk Pendidikan Tinggi dan Riset

 

Ia mengatakan, asal Bahasa Indonesia sebenarnya sama dengan bahasa yang dipakai negeri jiran Malaysia dan Singapura.

 

“Tetapi mereka memakai standar Bahasa Inggris. Kalau kita, ilmuwan Belanda menggunakan standar Bahasa Latin atau Bahasa Belanda sebagai standarisasi,” ungkapnya, sembari berpesan agar di momentum Hari Sumpah Pemuda ini para pemuda menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar.

BACA JUGA :  Sengketa Empat Pulau Sumut-Aceh, Dongan: Pendekatan Budaya Kunci Cegah Konflik Tajam

 

Sementara itu, Ketua Satu Pena Sumatera Utara, Dr. Shafwan Hadi Umry, menyoroti adab berbahasa dalam kehidupan berbangsa serta rusaknya penggunaan bahasa akhir-akhir ini.

 

“Adab berbahasa ini sangat penting. Sebab, kalau rusak bahasa kita, maka rusaklah bangsa kita,” ujarnya.

 

Menurutnya, perusakan bahasa tidak ada bedanya dengan merusak alam, bahkan sama jahatnya dengan membakar hutan.

BACA JUGA :  Presiden Prabowo Efisienkan Anggaran Kejagung, KPK, dan Polri Tahun 2025

 

“Kalau hutan rusak, itu bisa dipadamkan dengan fisika, sedangkan kalau rusak bahasa, itu bisa terjadi pembodohan, terjadi manipulasi,” tegas Shafwan.

 

Seperti diketahui, Satu Pena merupakan organisasi yang mendokumentasikan sastrawan yang ada di Sumatera Utara, baik karya puisi, esai, cerpen, drama, dan lainnya. Anggotanya terdiri dari banyak sastrawan dan penulis yang rutin mengadakan pertemuan untuk membedah karya sesama anggota.(bj)