JAKARTA – PT Pertamina Patra Niaga menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas antrean panjang pembelian BBM yang terjadi di sejumlah SPBU. Antrean tersebut dipicu meningkatnya konsumsi BBM bersubsidi, khususnya Pertalite dan Biosolar, serta adanya fenomena panic buying di sejumlah daerah.
Wakil Direktur Utama Pertamina Patra Niaga, Taufiq Aditiyawarman, mengatakan antrean yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir dipengaruhi oleh pergeseran konsumsi masyarakat ke BBM subsidi dan keterlambatan distribusi dalam merespons lonjakan permintaan.
“Kami menyadari dalam beberapa waktu terakhir masih terjadi antrean dan pembelian secara berlebihan atau panic buying di beberapa wilayah,” ujar Taufiq dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi XII DPR RI yang disiarkan melalui YouTube DPR RI, Kamis (23/7/2026).
Menurutnya, antrean paling banyak terjadi di wilayah Sumatera akibat meningkatnya konsumsi Pertalite dan Biosolar.
“Dan juga mungkin adanya lagging distribusi untuk merespons peningkatan volume penyerapan BBM bersubsidi tersebut ke lembaga penyalur,” katanya.
Atas kondisi tersebut, Pertamina menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat yang terdampak.
“Tentunya atas ketidaknyamanan yang dirasakan masyarakat, kami menyampaikan permohonan maaf,” ucap Taufiq.
Sebagai langkah percepatan normalisasi, Pertamina telah menambah armada distribusi BBM, memperpanjang jam operasional SPBU, serta meningkatkan frekuensi penyaluran dari terminal BBM (depo) ke SPBU.
“Yang sudah kami lakukan untuk menambah pasokan dan pengaturan pola distribusi yaitu dengan menambah armada, kemudian juga menambah jam operasi SPBU dan penyaluran distribusi dari depo ke SPBU,” jelasnya.
Selain itu, Pertamina juga berkoordinasi dengan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) di berbagai wilayah guna mempercepat penanganan antrean dan memastikan distribusi BBM kembali normal.
Meski terjadi lonjakan penyaluran, Pertamina memastikan stok BBM dan LPG secara nasional masih dalam kondisi aman.
“Berdasarkan posisi stok per 16 Juli, secara nasional ketersediaan BBM dan LPG berada dalam kondisi yang terkendali, sekitar 3,61 juta kiloliter,” kata Taufiq.
Ia menambahkan, realisasi penyaluran BBM subsidi saat ini bahkan telah melampaui konsumsi harian normal. Penyaluran Pertalite mencapai 104 persen dari throughput harian, sementara Biosolar mencapai sekitar 105 persen.
“Namun demikian peningkatan penyaluran tersebut masih dapat dilayani dan terus dimonitor secara harian,” pungkasnya. (kmp/isl)