MUI Sumut dan Ormas Islam Perkuat Ukhuwah, Dorong Kolaborasi Nyata untuk Kemaslahatan Bangsa

Sumut121 Dilihat

MEDAN — Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sumatera Utara memperkuat sinergi dengan berbagai organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam melalui Dialog Ukhuwah Kolaborasi Ormas Islam dan MUI Sumut bertema “Sinergitas Ormas Islam Membangun Kemaslahatan Umat dan Bangsa” di Aula MUI Sumut, Selasa (27/10/2026).

Kegiatan ini menjadi ruang konsolidasi ulama dan pimpinan ormas Islam untuk memperkuat persaudaraan, menjaga persatuan di tengah perbedaan pandangan, serta mendorong kolaborasi dalam menjawab berbagai persoalan sosial, politik, dan keumatan.

Ketua Umum MUI Sumut, Dr. H. Maratua Simanjuntak, menegaskan bahwa ukhuwah Islamiyah merupakan fondasi penting dalam menjaga persatuan umat. Menurutnya, perbedaan pandangan tidak seharusnya menjadi penghalang bagi umat Islam untuk bekerja sama demi kepentingan bersama.

“Ukhuwah Islamiyah serta kerukunan umat beragama menanamkan nilai-nilai Islam wasathiyah, sehingga perbedaan pendapat tidak membuat kita terpecah sebagai sesama umat Islam,” ujar Maratua.

Ia juga menyoroti persoalan penyalahgunaan narkoba yang mengancam kehidupan masyarakat dan masa depan generasi muda. Dalam menghadapi persoalan tersebut, ulama dan ormas Islam dinilai memiliki peran strategis melalui pembinaan moral, edukasi keagamaan, dan kerja sama dengan berbagai elemen masyarakat.

Terkait dinamika politik, Maratua menegaskan bahwa MUI tidak bersikap anti-politik. Sebaliknya, umat Islam perlu memahami dan menyikapi politik secara bijaksana berdasarkan nilai-nilai siyasah Islamiyah, dengan tetap mengutamakan kepentingan masyarakat dan kemaslahatan umat.

Perbedaan Politik Jangan Merusak Persaudaraan

Keynote speaker Dr. H. Dedi Iskandar, S.Sos., M.SP., Ketua Umum Pengurus Wilayah Al Jam’iyatul Washliyah Sumatera Utara sekaligus anggota Dewan Pertimbangan MUI Sumut, mengingatkan pentingnya menjaga soliditas antarormas Islam, terutama dalam menghadapi dinamika sosial dan menjelang tahun politik.

BACA JUGA :  Paparkan Sejarah dan Kiprah dari Masa ke Masa, Ketua MUI Sumut Tegaskan Peran Sebagai Rumah Besar Umat Islam

Menurutnya, perbedaan pilihan politik dan afiliasi partai tidak boleh merusak persaudaraan maupun menghambat kerja sama antarorganisasi Islam.

“Sinergitas kita dalam membangun kemaslahatan umat tidak boleh terganggu hanya karena kita memiliki perbedaan pandangan dan pilihan politik,” tegas Dedi.

Ia juga mendorong para tokoh agama dan pimpinan ormas Islam mengambil peran dalam menyikapi persoalan sosial, termasuk peredaran dan penyalahgunaan narkoba. Kontribusi tersebut dapat diwujudkan melalui edukasi, pencerahan keagamaan, dan pembinaan masyarakat, dengan tetap menghormati kewenangan aparat penegak hukum.

Dedi turut menekankan pentingnya komunikasi terbuka dan silaturahmi dengan berbagai elemen bangsa, termasuk kelompok yang memiliki latar belakang politik berbeda. Langkah tersebut diperlukan untuk membangun kesepahaman dan menjaga kepentingan umat.

Prof. Arifinsyah: Ukhuwah Harus Diwujudkan melalui Kolaborasi Nyata

Guru Besar UIN Sumatera Utara sekaligus Ketua Bidang Ukhuwah Islamiyah MUI Sumut, Prof. Dr. H. Arifinsyah, M.Ag., menegaskan bahwa ukhuwah Islamiyah tidak cukup diwujudkan melalui seruan persatuan, tetapi harus diterjemahkan menjadi kerja sama nyata dalam berbagai bidang kehidupan.

Dalam pemaparan bertajuk “Berukhuwah dan Bersinergi untuk Kemaslahatan Umat dan Bangsa”, Arifinsyah menjelaskan bahwa ajaran Islam menekankan keseimbangan antara hubungan manusia dengan Allah SWT (hablum minallah) dan hubungan antarmanusia (hablum minannas).

Karena itu, kesalehan individu harus berjalan seiring dengan tanggung jawab sosial untuk membangun masyarakat yang adil, damai, dan amanah.

Ia menjelaskan bahwa ukhuwah bukan berarti menghapus perbedaan, melainkan membangun kesediaan untuk saling menghormati, menolong dalam kebaikan, dan menyelesaikan perselisihan secara adil. Prinsip tersebut sejalan dengan pesan Surah Al-Hujurat ayat 10 tentang persaudaraan orang-orang beriman, Surah Ali ‘Imran ayat 103 tentang pentingnya berpegang teguh pada tali Allah, serta Surah Al-Ma’idah ayat 2 mengenai kerja sama dalam kebajikan dan ketakwaan.

BACA JUGA :  Komnas PPLH Sumut Soroti Dugaan Izin Lingkungan Pabrik PT Artha Makmur Abadi di Deli Serdang

Arifinsyah juga mengidentifikasi sejumlah faktor penghambat ukhuwah, antara lain fanatisme kelompok yang berlebihan, keterbatasan pengetahuan, individualisme, lemahnya kepemimpinan, dan pemahaman agama yang tidak komprehensif.

Untuk mengatasinya, ia mendorong penguatan pemahaman keagamaan yang moderat, komunikasi yang sehat, literasi digital, etika bermedia sosial, serta kolaborasi ant ormas Islam.

Lebih jauh, ukhuwah perlu diwujudkan melalui program produktif, seperti pengembangan sumber daya manusia, pemberdayaan ekonomi umat, penanggulangan bencana, penguatan kerukunan antarumat beragama, kolaborasi pemuda dan pelajar, serta penegakan etika politik dan kewargaan.

Ia juga menekankan pentingnya Al-Qur’an sebagai sumber ilmu pengetahuan, lembaga pendidikan sebagai sarana pembentukan generasi berkarakter, dan masjid sebagai pusat pembinaan spiritual sekaligus penguatan silaturahmi.

Milhan Yusuf: Sinergi Ulama dan Umara Membangun Peradaban

Sementara itu, Milhan Yusuf dari Lembaga Ukhuwah Umat Islam MUI Sumut mengangkat pentingnya sinergi ulama dan umara dalam membangun peradaban rahmatan lil ‘alamin, yakni peradaban yang menghadirkan kemaslahatan bagi seluruh alam.

Dalam materi bertajuk “Sinergitas Ulama dan Umara Mewujudkan Peradaban Rahmatan lil ‘Alamin”, Milhan menjelaskan bahwa kolaborasi antara otoritas keagamaan dan pemerintahan perlu dibangun melalui komunikasi berkelanjutan, penghormatan terhadap fungsi masing-masing, serta kerja sama nyata dalam menjawab kebutuhan masyarakat.

Ia menguraikan perkembangan peradaban Islam sejak masa Rasulullah SAW, Khulafaurasyidin, Dinasti Umayyah, hingga Dinasti Abbasiyah. Perkembangan tersebut antara lain ditandai dengan penguatan administrasi pemerintahan, pengelolaan baitulmal, kodifikasi Al-Qur’an, perkembangan fikih, serta kemajuan ilmu pengetahuan melalui lembaga seperti Baitul Hikmah.

BACA JUGA :  MUI Sumut Jadi Rujukan Nasional, Dr. Arfan Daulay Paparkan Strategi Penguatan Ukhuwah Islamiyah sebagai Perekat Umat

Menurut Milhan, kemajuan peradaban Islam pada masa lalu tidak terlepas dari nilai-nilai ajaran Islam yang mendorong kemajuan, dukungan politik, keterbukaan terhadap peradaban lain, serta hubungan yang harmonis antara otoritas keagamaan dan politik.

Untuk membangun sinergi pada masa kini, ia menekankan tiga langkah utama, yakni menjaga batas peran dan fungsi masing-masing, membangun dialog serta komunikasi secara rutin, dan melaksanakan kolaborasi dalam program-program kemaslahatan umat.

Milhan juga mengajak ormas Islam memperkuat ukhuwah dari lingkungan internal melalui silaturahmi dan dialog antarorganisasi. Dengan demikian, perbedaan dapat dikelola secara dewasa dan melahirkan gagasan yang diwujudkan menjadi karya nyata bagi masyarakat.

Perkuat Peran Ormas Islam bagi Masyarakat

Dialog Ukhuwah yang diselenggarakan Bidang Ukhuwah Islamiyah dan Lembaga Ukhuwah Umat Islam MUI Sumut ini diharapkan menjadi titik penguatan koordinasi dan kolaborasi antarormas Islam.

Melalui forum tersebut, MUI Sumut mendorong terbangunnya kerja sama yang tidak hanya berorientasi pada konsolidasi organisasi, tetapi juga memberikan manfaat langsung bagi masyarakat melalui pendidikan, pemberdayaan ekonomi, kegiatan kemanusiaan, pencegahan narkoba, dan penguatan kerukunan.

Ukhuwah Islamiyah pada akhirnya diharapkan menjadi kekuatan pemersatu yang mampu melampaui sekat organisasi dan pilihan politik. Dengan semangat moderasi, komunikasi terbuka, serta kolaborasi berkelanjutan, ulama dan ormas Islam diharapkan dapat memperkuat kontribusi umat dalam membangun kehidupan masyarakat yang adil, damai, dan sejahtera, sekaligus mewujudkan kemaslahatan umat dan bangsa. (r/isl)