BPS Kucurkan Anggaran Rp7 Triliun untuk Perbaiki Data Desil Kesejahteraan DTSEN

Nasional35 Dilihat

JAKARTA – Pemerintah mengalokasikan anggaran sekitar Rp7 triliun kepada Badan Pusat Statistik (BPS) untuk memperbaiki Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) yang selama ini menjadi acuan dalam menentukan kondisi kesejahteraan masyarakat.

Perbaikan tersebut dilakukan menyusul munculnya polemik mengenai pemeringkatan desil kesejahteraan yang dinilai tidak sesuai dengan kondisi riil sebagian masyarakat di sejumlah daerah.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, anggaran yang diberikan kepada BPS tidak hanya digunakan untuk pembaruan dan perbaikan DTSEN, tetapi juga untuk pelaksanaan sensus ekonomi serta sejumlah program statistik lainnya.

Hal itu disampaikan Purbaya dalam konferensi pers di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Kamis (27/8/2026).

BACA JUGA :  Kawal Sensus Ekonomi 2026, Wali Kota Medan: Data Yang Terkumpul, Akan Dijadikan Dasar Penyusunan Kebijakan Pemerintah

“Makanya sedang diperbaiki itu DTSEN-nya. Saya ngeluarin uang cukup banyak lho ke BPS tahun ini,” ujar Purbaya.

Menurut Purbaya, BPS sebelumnya telah mengajukan tambahan anggaran untuk mendukung proses perbaikan DTSEN. Anggaran tersebut kemudian mencakup berbagai kebutuhan, termasuk pelaksanaan sensus ekonomi.

“DTSEN dan sensus itu kalau enggak salah hampir Rp7 triliun atau lebih sedikit ya. Dengan macam-macam ya, cukup banyak termasuk untuk BPS,” katanya.

Purbaya berharap tambahan anggaran tersebut dapat membuat DTSEN semakin akurat dan mampu menjadi basis data standar yang dapat digunakan pemerintah dalam menetapkan berbagai kebijakan sosial ekonomi.

BACA JUGA :  Jaksa Agung ST Burhanuddin Terima Penghargaan CNBC Indonesia CGC Awards 2025 Dalam Penegakan Hukum dan Meraih Kepercayaan Publik

Ia menilai pembenahan data penting dilakukan agar kesalahan dalam menentukan peringkat atau desil kesejahteraan masyarakat dapat ditekan.

“Tahun depan seharusnya akan lebih baik. Kalau melakukan kesalahan satu atau dua kan biasanya selalu ada di survei ya, tapi saya harapkan di tahun depan lebih rapi,” tegasnya.

Perubahan Desil Jadi Sorotan

Sebelumnya, perubahan pemeringkatan desil dalam DTSEN menuai sorotan dari masyarakat. Sejumlah warga yang sebelumnya masuk dalam kelompok penerima bantuan dilaporkan mengalami perubahan status setelah pemutakhiran data.

Dampaknya, kelompok masyarakat seperti tukang becak, pedagang asongan, penderita gagal ginjal, hingga mahasiswa berpotensi kehilangan akses terhadap sejumlah program perlindungan sosial.

BACA JUGA :  Patut Disyukuri, Saat Dunia Krisis Pangan, Indonesia Mengalami Surplus

Program yang terdampak antara lain bantuan sosial, jaminan kesehatan, hingga bantuan pendidikan atau beasiswa.

Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai akurasi data yang digunakan untuk menentukan tingkat kesejahteraan masyarakat. Karena itu, pemerintah melalui BPS kini melakukan pembenahan agar DTSEN dapat menggambarkan kondisi sosial ekonomi masyarakat secara lebih tepat.

Dengan perbaikan tersebut, pemerintah berharap kesalahan pemeringkatan dapat diminimalkan sehingga program bantuan dan perlindungan sosial benar-benar diterima oleh masyarakat yang berhak. (bc/isl)