Dewasa dalam Mengelola Amarah Adalah Bagian dari Ketakwaan

Kolom11 Dilihat

Oleh Shamsi Ali Al-Nuyorki*

Dewasa bukan berarti tak pernah marah, tak pernah kecewa, tak pernah terluka. Dewasa adalah ketika hati bergolak, namun lisan tetap terjaga; ketika emosi memuncak, namun tindakan tetap terarah.

Jiwa yang matang tidak menjadikan amarah sebagai pedang untuk melukai, kekecewaan sebagai palu untuk menghukum, dan luka sebagai alasan untuk membalas dendam.

Islam tidak pernah meminta kita menjadi manusia tanpa rasa. Marah adalah fitrah, denyut kemanusiaan yang Allah titipkan. Yang diajarkan Islam adalah bagaimana menuntun gejolak itu agar tidak menjelma menjadi kerusakan.

Allah SWT berfirman dengan indah:
“Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebajikan.”
(QS. Ali Imran: 134)

Lihatlah bahasa langit itu. Allah tidak memuji mereka yang tak pernah marah, tapi mereka yang mampu “menahan” amarah. Rasa itu boleh hadir, boleh menyala, namun seorang mukmin tidak akan membiarkannya membakar akal, menghanguskan iman, dan melukai lewat lisan dan perbuatan.

BACA JUGA :  Gambaran Kehidupan & Kematian dalam Hukum Islam

Marah adalah rasa. Menyakiti adalah pilihan.

Kita tak kuasa menolak kecewa saat diperlakukan tidak adil. Amarah bisa saja menyelinap ke dada. Tapi kita selalu berkuasa memilih cara meresponsnya. Kedewasaan mengajarkan kita untuk lebih memilih diam daripada mencaci, berbisik dengan tenang daripada berteriak dengan bentakan, merajut solusi daripada mengurai pertengkaran, dan memeluk maaf daripada memelihara dendam.

Rasulullah SAW berbisik lembut sebagai pengingat: “Orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat. Sesungguhnya orang yang kuat adalah yang mampu menguasai dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari & Muslim)

BACA JUGA :  Polri Jadi Aktor Utama Intelijen Siber Dunia, Kolaborasi Bareng FBI Sukses Sikat Sindikat Phising

Kekuatan sejati bukanlah pada kemampuan membalas atau memenangkan perdebatan. Kekuatan sejati adalah ketika engkau mampu menaklukkan egomu sendiri di detik amarah memuncak.

Berapa banyak cinta yang retak, persaudaraan yang patah, bukan karena besarnya masalah, tapi karena emosi yang tak terjaga. Kata-kata tajam meluncur, rahasia terkuak, kehormatan tercabik, dan keputusan-keputusan yang mematikan diambil saat hati sedang terbakar api.

Maka ingatlah:
Diam tidak selalu berarti kalah. Menunda jawaban bukan tanda pengecut. Dan memaafkan tidak berarti membenarkan kesalahan.

Di situlah letak kedewasaan yang hakiki: hati tetap bening, akal tetap jernih.

Sering kali kita memang tak bisa mengatur bagaimana dunia memperlakukan kita. Tapi kita selalu bisa belajar mengatur bagaimana kita membalas perlakuan itu.

BACA JUGA :  Kolom Ustadz Abdul Latif Khan: Ketika Kita Menunda Taubat Lagi

Jangan biarkan kesalahan orang lain mendikte pikiranmu, meracuni perasaanmu, dan mengendalikan perilakumu. Jangan biarkan luka mengubah jati dirimu yang paling dalam. Jangan biarkan amarah sesaat membuatmu mengkhianati akhlak mulia yang selama ini kau jaga dengan susah payah.

Maka sebelum kata terucap dan langkah terayun, tanyakanlah pada jiwamu sendiri dalam hening:

“Apakah sikapku ini akan mendekatkanku kepada Allah, atau justru menjauhkanku dari-Nya?”

Seorang mukmin akan selalu memilih jalan yang mendekatkannya kepada Rabb-nya. Sebab merespons kesalahan dengan cara yang benar adalah cermin dari ketakwaan itu sendiri.

Semoga Allah menjaga hati kita tetap lembut dalam marah, dan kuat dalam memaafkan.

New York City, 14 September 2026

**Board Member, Islamic Society of North America (a new amanah)**