TEHERAN — Iran mengeluarkan peringatan keras kepada Amerika Serikat di tengah meningkatnya ketegangan terkait blokade maritim dan akses pelayaran di Selat Hormuz. Teheran memperingatkan bahwa kepentingan ekonomi Amerika Serikat dapat menjadi sasaran apabila tekanan dan blokade terhadap Iran terus berlangsung.
Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, menyatakan Iran akan memperluas sasaran jika blokade maritim terhadap negaranya tidak dihentikan.
“Jika blokade berlanjut, kepentingan ekonomi AS akan menjadi sasaran,” kata Rezaei, seperti diberitakan IRIB, Kamis (27/8/2026).
Rezaei juga mengklaim Iran masih mampu mempertahankan aktivitas ekspor minyak selama masa gencatan senjata. Menurut dia, sekitar 70 juta hingga 80 juta barel minyak telah berhasil diekspor.
Ia menambahkan bahwa Iran juga terus mengembangkan jalur perdagangan baru untuk menjaga aktivitas ekonominya di tengah berbagai tekanan dan pembatasan maritim.
Pernyataan tersebut memperlihatkan upaya Teheran mempertahankan kemampuan ekonominya sekaligus memberikan tekanan balik kepada Washington.
Selat Hormuz Kembali Memanas
Selat Hormuz menjadi salah satu titik utama dalam ketegangan Iran dan Amerika Serikat. Jalur strategis tersebut merupakan salah satu rute penting bagi perdagangan energi dunia.
Iran menyatakan pembukaan penuh Selat Hormuz bergantung pada pelaksanaan komitmen yang sebelumnya telah disepakati.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump menyatakan Selat Hormuz tetap terbuka dan menegaskan bahwa Amerika Serikat mengendalikan kawasan tersebut.
Teheran menilai Washington belum menjalankan sejumlah poin dalam nota kesepahaman yang sebelumnya disusun melalui mediasi Pakistan dan Qatar.
Kesepakatan tersebut antara lain mencakup penghentian permusuhan, pembukaan kembali Selat Hormuz, pencabutan blokade laut, serta proses negosiasi selama 60 hari.
Selain persoalan Selat Hormuz, Rezaei juga menyinggung situasi di Lebanon. Ia menyebut Beirut dan wilayah pinggiran selatan Lebanon sebagai garis merah bagi Iran.
Rezaei memperingatkan agar tidak ada pihak yang melakukan pergerakan ke wilayah tersebut.
Meningkatnya ketegangan ini membuat Selat Hormuz kembali menjadi kawasan strategis yang mendapat perhatian dunia. Setiap eskalasi di jalur tersebut berpotensi berdampak terhadap hubungan Iran-AS sekaligus keamanan perdagangan dan pasokan energi global. (bc/isl)
