Tujuh Pelajaran Penting Dari Peristiwa 9/11

Kolom10 Dilihat

Oleh Shamsi Ali Al-Niyorki*

Seperempat abad telah berlalu, namun peristiwa 11 September masih hidup dalam tulang-belulangku. Saya tidak mengalaminya sebagai berita dari kejauhan, melainkan sebagai seorang Muslim, seorang imigran Indonesia, dan seorang New Yorker yang menaiki kereta R pada Selasa pagi itu.

Sejak peristiwa yang pahit dan menyedihkan itu, saya banyak merenung, memikirkan apa yang terjadi, bagaimana ia terjadi, dan mengapa ia terjadi.

Pada akhirnya saya sampai pada kesimpulan bahwa memang penting untuk mengenang dan tidak melupakannya. Namun yang jauh lebih penting adalah memetik hikmah dan pelajaran darinya, pelajaran yang dapat menjadi bekal untuk menjalani hidup dan membangun dunia yang lebih baik, hari ini dan di masa depan.

Inilah tujuh pelajaran yang dapat membimbing kita hari ini dan ke depan:

Pertama, kejahatan tidak memiliki agama, tetapi kita akan dimintai pertanggungjawaban atasnya.

Para pembajak itu mengatasnamakan Islam, padahal mereka tidak pernah mewakili kami, tidak mewakili Nabi kami, dan tidak mewakili Kitab Suci kami. Namun setelah hari itu, setiap Muslim di Amerika tiba-tiba menjadi juru bicara Islam yang tidak pernah kami minta.

Pelajaran yang saya petik: kita tidak boleh pasif terhadap agama kita sendiri. Jika kita tidak mendefinisikan Islam melalui akhlak, pelayanan, dan kejujuran kita, orang lain akan dengan senang hati mendefinisikannya melalui kejahatan mereka.

Kedua, “Qalu Salama” bukan sekadar ayat di Al-Quran, ia adalah strategi bertahan hidup.

BACA JUGA :  Patuhi Putusan MK, Hentikan Pembelokan Tafsir

“Wa idza khathabahumul jahiluna qalu salama” (Dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata keselamatan)- QS. Al-Furqan 25:63

Pada saat-saat awal setelah serangan, seorang sopir yang memberi saya tumpangan dari Manhattan ke Queens mengumpat, “Muslim kurang ajar,” tanpa tahu saya Muslim. Di jalanan, saudari-saudari kami dijambak hijabnya, saudara-saudara kami dipukuli, masjid-masjid dirusak.

Saat itu, dan kali ini di saat Jake Lang melecehkan agama dan keyakinan kami, harusnya marah adalah hal yang wajar. Tetapi saya belajar bahwa menahan diri itu jauh lebih mulia dan kuat. Maka saya memilih bersikap dengan martabat, melucuti kebencian dengan cara yang tidak pernah bisa dilakukan oleh perdebatan.

Ketiga, isolasi itu berbahaya, menjadi bagian adalah perlindungan.

Sebelum 9/11, banyak masjid kami hidup dalam isolasi, beribadah di dalam, tetapi terputus dari luar. Setelah 9/11, masjid-masjid yang telah membangun jembatan dengan komunitas lain; gereja, sinagoga, balai kota, dan kepolisian, justru dilindungi oleh para tetangga mereka.

Saya belajar bahwa kewarganegaraan tidak terpisah dari keimanan kita. Kita harus hadir bukan hanya di masjid, tetapi juga di balai kota, di sekolah-sekolah umum, di ruang redaksi, dan di perkumpulan warga.

Keempat, satu kalimat di media dapat membakar dua puluh tahun kepercayaan.

Masih terngiang di telinga kata-kata Wolf Blitzer di CNN pagi itu: “New York diserang oleh teroris Islam,” yang ditayangkan bersamaan dengan rekaman lama yang tidak ada hubungannya, perempuan-perempuan berhijab yang bersorak. Satu gambar dan kalimat itu mengukuhkan asosiasi jahat ke Islam yang butuh puluhan tahun untuk diluruskan.

BACA JUGA :  PRESIDENSIAL ATAU PRESIDIUM?

Hal yang mengingatkan saya: jika kita tidak narasi kita sendiri, orang lain akan menciptakan narasi untuk kita. Umat Islam harus menguasai media, bukan takut kepadanya. Kita harus membangun platform kita sendiri, melatih juru bicara kita sendiri, dan membuka pintu kita sebelum awak berita memburu kita.

Kelima, krisis bisa menjadi dakwah.

Paradoksnya, momen yang paling penuh kebencian bagi umat Islam di Amerika justru menjadi momen keingintahuan terbesar tentang Islam. Ribuan orang berjalan masuk ke masjid untuk pertama kalinya untuk meminta Al-Qur’an. Banyak yang dulu membenci Islam menjadi pendukung dan pembelanya setelah hanya bertemu dengan seorang tetangga Muslim.

Allah mengubah “mihna” (ujian) menjadi “minha” (pemberian), tetapi tidak dengan sendirinya. Itu menuntut kita untuk membuka pintu, melembutkan hati, dan mengubah tantangan menjadi peluang yang terbuka.

Keenam, keadilan harus universal, atau ia bukan keadilan.

“Wa la yajrimannakum shana’anu qaumin ‘ala alla ta’dilu. I’dilu huwa aqrabu littaqwa” (Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorongmu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa)- QS. Al-Ma’idah 5:8

Kita tentu mengutuk pembunuhan 3.000 jiwa tak berdosa pada 9/11 karena nyawa itu sakral. Tetapi kredibilitas moral kita juga bergantung pada keberanian mengutuk pembunuhan orang-orang tak berdosa di mana pun; baik di New York, Afghanistan, Irak, maupun Palestina. Keadilan yang selektif bukanlah keadilan sama sekali.

BACA JUGA :  Kolom Ustaz Abdul Latif Khan: Ketika Kita Lelah Berjuang dan Ingin Menyerah

Ketujuh, Amerika jauh lebih besar daripada suara-suara para pembenci.

Hari itu (9/11) saya diselamatkan oleh orang asing yang memberi tumpangan, dan dipeluk oleh tetangga saya yang sudah sepuh, seorang Katolik Irlandia, yang berkata, “Kami tidak percaya umat Islam melakukan ini.”

Hari ini, kita nenyaksikan seorang provokator Zionis MAGA, Jack Lang, merobek Al-Qur’an di sebuah gereja kulit hitam di Harlem, ia tidak mewakili Amerika atau ajaran Yesus Kristus, sebagaimana mereka yang melakukan terorisme atas nama Islam.

Amerika dalam wujud terbaiknya adalah pelukan tetangga itu, bukan aksi kebencian dan pelecehan agama orang lain itu.

Pada akhirnya, peringatan 9/11 seharusnya bukan ajang untuk berlomba-lomba dalam rasa sakit atau panggung untuk kebencian dan perpecahan. Ia harus menjadi hari “muhasabah” introspeksi mendalam.

Masanya untuk kita menengok ke depan dan bertanya: apa yang bisa kita lakukan untuk membangun New York dan Amerika secara lebih baik?

Dan pastinya, dengan kebersamaan kita mampu menjadikan Amerika berhati baik lagi- “Make America Kind Again” (MAKA). Insya Allah!

New York, 11 September 2026

*A Proud New Yorker