Warga Binaan Rutan Kelas I Medan Produksi 5 Ton Tempe per Bulan untuk Dukung Program MBG

Hukum, Medan6 Dilihat

MEDAN — Warga binaan Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas I Medan tak hanya menjalani pembinaan selama masa pidana, tetapi juga diberi kesempatan mengembangkan keterampilan melalui berbagai kegiatan produktif.

Salah satu kegiatan unggulan yang dikembangkan melalui Bimbingan Kegiatan Kerja (Bimker) adalah produksi tempe. Setiap bulan, warga binaan mampu menghasilkan sekitar 5 ton tempe yang turut disalurkan untuk mendukung kebutuhan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Kepala Rutan Kelas I Medan, Andi Surya, mengatakan pembinaan kemandirian menjadi bagian penting dalam proses pemasyarakatan. Menurutnya, warga binaan perlu diberikan ruang untuk belajar dan mengembangkan kemampuan sebagai bekal ketika kembali ke tengah masyarakat.

“Kami terus mendorong agar pembinaan di Rutan Kelas I Medan tidak hanya berorientasi pada keterampilan, tetapi juga pada pembentukan kemandirian dan produktivitas warga binaan,” ujar Andi Surya.

Ia menjelaskan, melalui Bimker, warga binaan diberikan kesempatan untuk belajar, bekerja, berkarya, sekaligus mengembangkan potensi yang mereka miliki.

Produksi tempe dilakukan secara berkelanjutan dengan memperhatikan aspek kebersihan dan kualitas. Dalam sehari, produksi mencapai sekitar 307 batang tempe, dengan total produksi bulanan yang dapat mencapai sekitar 5 ton.

BACA JUGA :  Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Umum Menyetujui 2 Pengajuan Restorative Justice Tindak Pidana Narkotika 

Produk tempe yang dihasilkan juga telah mengantongi sertifikat halal. Hal ini menjadi salah satu bentuk komitmen Rutan Kelas I Medan untuk memastikan produk hasil pembinaan memenuhi ketentuan dan standar yang berlaku.

Selain tempe, kegiatan Bimker juga mencakup berbagai bidang produktif lainnya. Warga binaan dilibatkan dalam pembuatan kerajinan tangan, sandal, tas, sandal hotel, hingga pengolahan berbagai produk UMKM.

Produk olahan tersebut antara lain keripik pisang, keripik tempe, roti, produk olahan teri, serta pengelolaan coffee shop.

Berbagai kegiatan tersebut tidak hanya bertujuan meningkatkan keterampilan warga binaan, tetapi juga memberikan kontribusi terhadap penerimaan negara melalui Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP).

Hingga Juli 2026, PNBP yang diperoleh dari kegiatan Bimker Rutan Kelas I Medan telah mencapai Rp24,5 juta dari target sebesar Rp36 juta dalam satu tahun.

Andi Surya menegaskan, capaian PNBP tersebut merupakan akumulasi dari berbagai produk dan kegiatan usaha yang dikelola melalui Bimker, bukan semata-mata berasal dari produksi tempe.

BACA JUGA :  Bobby Buka Suara Soal Jukir yang Gunakan Mesin E-parking buat Judi Online

“PNBP yang dihasilkan merupakan akumulasi dari berbagai produk dan kegiatan usaha yang ada di Bimker, bukan berasal dari satu jenis produk saja. Ini menunjukkan bahwa pembinaan yang kita lakukan memiliki nilai produktif,” katanya.

Ia menambahkan, Rutan Kelas I Medan akan terus mendorong pengembangan potensi warga binaan agar keterampilan yang diperoleh selama menjalani pembinaan dapat menjadi modal ketika mereka kembali ke masyarakat.

Sementara itu, Kasubsi Bimbingan Kegiatan Kerja Rutan Kelas I Medan, Irawadi Purba, mengatakan produksi tempe menjadi salah satu kegiatan yang terus dikembangkan karena memberikan pengalaman kerja secara langsung kepada warga binaan.

“Produksi tempe ini menjadi salah satu kegiatan produktif yang kami kembangkan secara berkelanjutan. Dalam satu bulan, produksi dapat mencapai sekitar 5 ton, dengan hasil produksi yang turut mendukung kebutuhan Program Makan Bergizi Gratis (MBG),” ungkap Irawadi.

BACA JUGA :  Polda Sumut Musnahkan 209 Mesin Judi Hasil Penindakan di Deli Serdang

Menurutnya, kegiatan produksi tidak hanya mengajarkan keterampilan teknis. Warga binaan juga dilatih menerapkan kedisiplinan, tanggung jawab, kebersihan, serta tata kerja yang terarah.

“Harapannya, keterampilan yang diperoleh selama mengikuti kegiatan di Bimker dapat menjadi bekal bagi warga binaan setelah selesai menjalani masa pidana. Jadi, mereka tidak hanya menghasilkan produk, tetapi juga mendapatkan pengalaman kerja dan keterampilan yang bisa dikembangkan secara mandiri di tengah masyarakat,” tambahnya.

Melalui berbagai kegiatan di Bimker, Rutan Kelas I Medan berupaya menjadikan pembinaan kemandirian sebagai bagian dari proses reintegrasi sosial.

Warga binaan tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan produk bernilai ekonomi, tetapi juga dibentuk agar memiliki kepercayaan diri, kedisiplinan, tanggung jawab, serta kemampuan bekerja.

Dengan demikian, program pembinaan tersebut diharapkan dapat memberikan bekal nyata bagi warga binaan agar setelah menyelesaikan masa pidana, mereka mampu mengembangkan keterampilan yang dimiliki dan menjalani kehidupan secara lebih mandiri di tengah masyarakat. (r/isl)