Wujudkan Asta Cita Presiden Prabowo, Pemerintah Luncurkan Pesantren Bebas TB di Sumut

Pendidikan, Sumut12 Dilihat

Deli Serdang- Pemerintah meluncurkan Program Pesantren Bebas Tuberkulosis (TB) secara nasional. Peluncuran dilakukan oleh 3 Wakil Menteri sekaligus: Wakil Menteri Agama Romo Muhammad Syafi’i, Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus, dan Wakil Menteri Dalam Negeri Akhmad Wiyagus. Peluncuran Pesantren Bebas TB sebagai wujud komitmen bersama pemerintah dalam membangun lingkungan pesantren yang sehat.

Peluncuran dilaksanakan di Pondok Pesantren Mawaridussalam, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, Rabu (4/11/2026). Hadir juga Direktur Jenderal Pesantren Basnang Said, Wakil Gubernur Sumatera Utara H. Surya, Bupati Deli Serdang Asri Ludin Tambunan, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sumatera Utara H. Ahmad Qosbi, Kepala Bagian Tata Usaha Syafrizal Bancin, para Kepala Bidang, Kakankemenag Kab/Kota, dan Pimpinan Ponpes Mawaridussalam Deli Serdang.

Kegiatan ini juga diikuti Kantor Wilayah Kementerian Agama provinsi, Kantor Kementerian Agama kabupaten/kota, serta para pengasuh pesantren dari berbagai daerah di Indonesia secara daring.
Wakil Menteri Agama RI, Romo Muhammad Syafi’i, mengatakan bahwa kesehatan santri adalah hak konstitusional yang setara dengan warga negara lainnya. Program Pesantren Bebas TB merupakan wujud sinergi pemerintah dalam memperluas deteksi dini, pencegahan, dan penanganan tuberkulosis di lingkungan pesantren.

Menurutnya, lebih dari 40 ribu pesantren dengan jutaan santri di seluruh Indonesia membutuhkan perhatian serius dalam aspek kesehatan. Para santri memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang baik sebagaimana masyarakat lainnya.

BACA JUGA :  FODIUM Mitra Kolaborasi Wujudkan Sumut Berkah dan Harmoni

Ia juga mengatakan Program ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat pencegahan dan penanggulangan tuberkulosis di lingkungan pesantren sekaligus memastikan para santri mendapatkan akses pelayanan kesehatan yang layak dan memadai.

“Ada empat puluh ribu lebih pesantren dengan jutaan santri di seluruh Indonesia. Santri juga memiliki hak yang sama dalam kesehatan. Ini sejalan dengan cita-cita mulia Presiden Prabowo melalui Asta Cita keempat, yaitu pembangunan sumber daya manusia, sains, teknologi, pendidikan, dan kesehatan,” ujarnya.

Ia juga mengatakan pelaksanaan program ini diintegrasikan dengan layanan Cek Kesehatan Gratis (CKG) bagi santri agar pemeriksaan kesehatan dapat menjangkau lebih banyak warga pesantren.

“Kita ini satu tim. Tidak ada keberhasilan individual, yang ada adalah keberhasilan bersama. Tidak ada keberhasilan yang dicapai sendiri-sendiri. Tidak boleh ada kementerian yang bekerja sendiri-sendiri,” ucapnya.

Wakil Menteri Kesehatan, Benjamin Paulus Octavianus mengungkapkan kesiapan Kementerian Kesehatan untuk mendukung penuh pelaksanaan Program Pesantren Bebas TB. Dukungan tersebut sejalan dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, khususnya dalam meningkatkan kualitas kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Kementerian Kesehatan akan terus bersinergi dengan Kementerian Agama dan kementerian terkait untuk memastikan program berjalan efektif dan menjangkau lingkungan pesantren.

Dukungan juga disampaikan Wakil Menteri Dalam Negeri Akhmad Wiyagus saat memberi sambutan. Ia menyatakan kesiapan Kemendagri untuk bersinergi dengan Kementerian Agama dan Kementerian Kesehatan sekaligus mengajak pemerintah daerah berperan aktif menyukseskan program tersebut.

BACA JUGA :  Kick off Masjid Ramah Pemudik, Kemenag Sumut Siapkan 281 Masjid Buka 24 Jam

Menurutnya, keterlibatan pemerintah daerah menjadi bagian penting untuk memastikan pelaksanaan program berjalan optimal di wilayah masing-masing. Melalui koordinasi pemerintah pusat dan daerah, upaya pencegahan dan penanggulangan TB di pesantren diharapkan dapat dilaksanakan secara berkelanjutan.

“Pesantren merupakan lingkungan pendidikan sekaligus tempat tinggal bagi banyak santri. Karena itu, edukasi kesehatan, deteksi dini, pemeriksaan berkala, dan penanganan yang tepat menjadi bagian penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman dan sehat,” ujar Akhmad Wiyagus.

Direktur Jenderal Pesantren, Basnang Said, mengatakan kesehatan masih menjadi tantangan kompleks di lingkungan pesantren. Dari sekitar 40 ribu pesantren di Indonesia, belum banyak yang memiliki klinik atau poliklinik dengan dukungan tenaga medis profesional.

“Karena itu, kolaborasi lintas kementerian bertujuan untuk memperkuat fasilitas kesehatan, mengadakan penyuluhan rutin dengan melibatkan puskesmas, serta memastikan santri memperoleh pelayanan medis tanpa terkendala persoalan domisili,” ucapnya.

Dirjen Pontren berharap Program Pesantren Bebas TB tidak berhenti pada kegiatan peluncuran, tetapi menjadi awal gerakan yang lebih luas dalam membangun ekosistem kesehatan pesantren.

“Dari Pondok Pesantren Mawaridussalam ini kita memulai ikhtiar yang bermakna bagi masa depan pesantren. Semoga semangat dan komitmen pemerintah untuk mewujudkan pesantren yang sehat dan bebas tuberkulosis dapat menyebar ke seluruh penjuru Nusantara,” pungkasnya.

BACA JUGA :  Cegah Konflik Sejak Dini, Kanwil Kemenag Sumut Perkuat Implementasi SI-RUKUN di Tapanuli Selatan

Kakanwil Kemenag Sumut: Wamenag Konsisten Peduli Pesantren
Kakanwil Kemenag Sumut H. Ahmad Qosbi bersyukur Sumatera Utara terpilih menjadi tuan rumah Peluncuran Program Pesantren Bebas TB. Ia mengapresiasi terobosan luar biasa Wamenag Romo Muhammad Syafi’i sebagai tokoh yang peduli terhadap pesantren.

“Terima kasih dan rasa syukur yang mendalam kami haturkan atas terpilihnya Sumatera Utara sebagai tuan rumah peluncuran Program Pesantren Bebas TB. Kami sangat mengapresiasi terobosan luar biasa dari Wakil Menteri Agama, Romo Muhammad Syafi’i, yang senantiasa menunjukkan kepedulian nyata terhadap kemajuan dan kesejahteraan pesantren,” ujar Kakanwil Kemenag Sumut, H. Ahmad Qosbi.

Ia menambahkan bahwa program pencegahan dan penanggulangan tuberkulosis di lingkungan pesantren merupakan langkah strategis untuk menciptakan iklim belajar yang lebih sehat dan kondusif. Kesehatan para santri dan pengajar menjadi prioritas utama agar proses penimbaan ilmu agama serta pembentukan karakter dapat berjalan secara maksimal tanpa terganggu oleh ancaman penyakit menular.

Lebih lanjut, Ahmad Qosbi berharap momentum peluncuran program ini dapat memperkuat sinergi antara Kementerian Agama, dinas kesehatan, serta jajaran pengurus pesantren di seluruh Sumatera Utara. Melalui kerja sama yang solid dan penanganan yang terintegrasi, pesantren diharapkan tidak hanya mencetak generasi yang cerdas secara spiritual, tetapi juga unggul dan tangguh secara fisik. (r/isl)