PT Namnam Fashion Cimahi Tutup, 178 Pekerja Kena PHK, Dedi Mulyadi: Ini Siklus Industri Padat Karya

Bisnis, Nasional9 Dilihat

BANDUNG – Penutupan PT Namnam Fashion Industries di Kota Cimahi yang mengakibatkan 178 pekerja terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) mendapat perhatian Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. Menurutnya, kondisi tersebut merupakan bagian dari dinamika industri padat karya yang kerap berpindah ke daerah dengan biaya produksi lebih kompetitif.

Dedi menjelaskan, industri padat karya seperti garmen, tekstil, dan alas kaki sangat bergantung pada efisiensi biaya tenaga kerja. Ketika terdapat wilayah lain yang menawarkan ongkos produksi lebih rendah, perusahaan cenderung memindahkan basis produksinya.

“Perusahaan padat karya memang begitu. Kalau sudah mencapai titik tertentu dan ada daerah lain yang biaya tenaga kerjanya lebih murah, biasanya mereka pindah. Itu terjadi di mana-mana,” ujar Dedi, Selasa (4/8/2026).

BACA JUGA :  Sidang Korupsi Chromebook, JPU Ungkap Pengaturan Pengadaan dan Kesepakatan Co-Investment Sebesar 30%

Menurutnya, fenomena penutupan pabrik maupun relokasi investasi merupakan siklus yang lazim terjadi di sektor industri padat karya ketika biaya operasional di suatu daerah dinilai tidak lagi kompetitif.

Dedi juga menyoroti perbedaan karakter antara industri padat karya dan industri padat modal. Industri padat modal membutuhkan investasi besar untuk mesin, teknologi, dan infrastruktur sehingga umumnya bertahan lebih lama di satu lokasi. Sebaliknya, industri padat karya lebih bergantung pada tenaga kerja sehingga biaya upah menjadi faktor utama dalam menentukan keberlangsungan usaha maupun lokasi produksi.

BACA JUGA :  KPK Sita Miliaran Rupiah dan Logam Mulia dalam Kasus OTT Oknum Ditjen Bea dan Cukai Kementerian Keuangan

“Kalau industri padat karya, khususnya garmen, memang harus dipahami bahwa dalam siklus usahanya bisa saja menutup atau berpindah lokasi,” katanya.

Ia menegaskan, pergeseran investasi sektor garmen bukan hanya terjadi di Jawa Barat, tetapi merupakan pola yang umum terjadi di industri tersebut. Sebelum berinvestasi, perusahaan biasanya membandingkan berbagai aspek seperti biaya produksi, ketersediaan tenaga kerja, akses transportasi, hingga besaran upah minimum.

Di sisi lain, Dedi mengungkapkan bahwa pusat pertumbuhan industri padat karya di Jawa Barat kini mulai bergeser ke wilayah timur provinsi. Daerah seperti Kabupaten Indramayu, Majalengka, dan Garut menjadi tujuan baru investasi sektor garmen, manufaktur sepatu, dan industri alas kaki.

BACA JUGA :  OJK Luncurkan Strategi Nasional Literasi Keuangan Indonesia 2021-2025

Menurutnya, perkembangan kawasan industri di wilayah tersebut juga membuka peluang kerja baru melalui rekrutmen tenaga kerja dalam jumlah besar.

“Hari ini lapangan kerja baru juga banyak. Kawasan industri terus tumbuh. Rekrutmen untuk industri sepatu, alas kaki, maupun garmen sangat besar di Indramayu, Majalengka, termasuk Garut,” pungkasnya. (bc/isl)