Dari Tanah Melayu Deli ke Tanah Melayu Malaysia: Membuka Wawasan, Memperkuat Jejaring, Menjemput Kemajuan

Kolom51 Dilihat

Oleh: Jufri

Ketua PD Muhammadiyah Kota Tebing Tinggi

Saya dikabari dan juga membaca di media sosial bahwa Pimpinan Muhammadiyah Kota Medan melakukan kunjungan muhibah ke negeri jiran, Malaysia. Kunjungan selama empat hari ini menarik perhatian saya, bukan semata karena perjalanan ke luar negeri, tetapi karena di balik sebuah perjalanan organisasi selalu ada kesempatan untuk memperluas silaturahmi, menambah wawasan, membangun jejaring dan menemukan inspirasi baru bagi kemajuan gerakan.

Saya sendiri tidak mengikuti perjalanan tersebut secara langsung. Namun, saya meyakini bahwa perjalanan itu, di samping menjadi kesempatan untuk refreshing dan menikmati suasana yang berbeda, tentu juga dapat menjadi ruang untuk belajar dalam banyak hal. Belajar dari perjalanan, belajar dari pertemuan, belajar dari organisasi lain, belajar dari masyarakat, bahkan belajar dari hal-hal sederhana yang mungkin kita temui selama berada di negeri jiran.

Rombongan dipimpin langsung oleh Ketua PDM Kota Medan, Ustadz Maulana Siregar, bersama Sekretaris PDM Kota Medan, Ibrahim Nainggolan, dan jajaran pimpinan lainnya.

Bagi saya, perjalanan seperti ini patut dilihat lebih dari sekadar kunjungan biasa. Sebab, sebuah perjalanan organisasi akan menjadi lebih bermakna apabila apa yang dilihat dan dipelajari selama perjalanan dapat dibawa pulang menjadi gagasan dan energi baru untuk Persyarikatan.

Mengapa Malaysia?

Pertanyaan ini menarik. Bagi masyarakat Medan, Malaysia sesungguhnya bukan negeri yang jauh. Jaraknya relatif dekat, perjalanan cukup mudah, dan biaya pun relatif lebih terjangkau. Tetapi justru dari kedekatan itulah kita bisa mendapatkan pengalaman internasional tanpa harus pergi terlalu jauh.

BACA JUGA :  Dari Langit ke Bumi: Pesan Politik Isra Mikraj

Dalam salah satu perjalanan ke luar negeri, seperti Malaysia atau Thailand, kita akan mendapatkan pengalaman yang berbeda. Menariknya, secara geografis negara-negara tersebut bahkan bisa terasa lebih dekat dari Medan dibandingkan sejumlah daerah di Indonesia sendiri.

Indonesia adalah negara yang sangat luas. Jarak Medan ke Makassar, misalnya, atau Medan ke Papua dan Nusa Tenggara Timur, begitu panjang sehingga dalam kondisi tertentu perjalanan ke negara tetangga justru bisa lebih dekat daripada perjalanan menuju provinsi lain di negeri sendiri.

Karena itu, pergi ke luar negeri tidak selalu berarti pergi lebih jauh. Kadang-kadang, negara lain justru lebih dekat daripada daerah lain yang masih berada dalam satu negara.

Namun, meskipun dekat secara geografis, perjalanan ke Malaysia tetap memberikan pengalaman yang berbeda. Kita melewati batas negara, melihat sistem dan kebijakan yang berbeda, bertemu dengan masyarakat dengan karakter sosial yang tidak sepenuhnya sama, serta memperoleh perspektif baru tentang pendidikan, dakwah, budaya, tata kelola dan kehidupan masyarakat.

Malaysia juga memiliki kedekatan sejarah dan budaya sebagai bagian dari dunia Melayu. Bagi Sumatera Utara, hubungan dengan dunia Melayu memiliki akar sejarah yang panjang. Ada bahasa yang serumpun, budaya yang beririsan, sejarah yang saling berhubungan, serta kehidupan keislaman yang menjadi bagian penting dari kedua masyarakat.

Karena itu, perjalanan ke Malaysia seperti melihat sesuatu yang dekat dari perspektif yang berbeda.

Dekat jaraknya, tetapi luas wawasannya.

Lebih Bermakna karena Ada Jejaring Muhammadiyah

BACA JUGA :  Muhardi, Sekjen Baru AdNI: Dari Aktivis Remaja hingga Motor Penggerak Organisasi Advokat

Bagi Muhammadiyah Kota Medan, perjalanan ini memiliki alasan yang lebih khusus. Di Malaysia terdapat Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Malaysia dan Universiti Muhammadiyah Malaysia (UMAM). Artinya, perjalanan tersebut sekaligus membuka ruang silaturahmi dan memperkuat jejaring Muhammadiyah di tingkat internasional.

Pertemuan dengan PCIM Malaysia menjadi kesempatan untuk bertukar pengalaman tentang dakwah dan pengembangan organisasi. Pertemuan dengan Angkatan Belia Islam Malaysia (ABIM) serta kunjungan ke YADIM juga memberikan perspektif mengenai gerakan kepemudaan dan dakwah Islam di negeri jiran.

Kita tentu tidak datang untuk merasa lebih unggul, tetapi juga tidak datang dengan perasaan lebih rendah. Kita datang untuk melihat, membandingkan dan belajar.

Belajar tidak selalu berarti meniru. Belajar berarti menemukan sesuatu yang baik, kemudian menyesuaikannya dengan kebutuhan dan karakter kita sendiri.

Perjalanan yang Bertepatan dengan Persiapan Muktamar

Ada alasan lain yang membuat perjalanan ini semakin relevan.

Medan dan Sumatera Utara sedang menuju momentum besar: menjadi tuan rumah utama Muktamar ke-49 Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah tahun 2027.

Tentu diperlukan kesiapan yang baik. Bukan hanya soal tempat dan teknis penyelenggaraan, tetapi juga sumber daya manusia, pelayanan, komunikasi, tata kelola, jejaring dan kemampuan menerima tamu dari berbagai daerah bahkan dari luar negeri.

Dalam konteks ini, pengalaman melihat bagaimana Malaysia mengelola kawasan, pelayanan, komunikasi dan berbagai kegiatan dapat menjadi bahan pembelajaran. Tidak semuanya harus ditiru, tetapi selalu ada hal yang dapat menjadi inspirasi.

Yang paling penting, perjalanan ini jangan berhenti pada dokumentasi. Apa yang dilihat dan dipelajari perlu dibagikan, didiskusikan dan, jika memungkinkan, diterjemahkan menjadi gagasan serta program yang bermanfaat bagi Muhammadiyah Kota Medan.

BACA JUGA :  Muhammadiyah Tidak Terburu-Buru Soal Bank Syariah

Sebab, ukuran keberhasilan sebuah perjalanan bukanlah seberapa banyak tempat yang dikunjungi, tetapi seberapa besar manfaat yang dapat dibawa pulang.

Saya membayangkan kunjungan PDM Kota Medan ke Malaysia ini bukan sebagai akhir dari sebuah agenda, melainkan awal dari kemungkinan-kemungkinan baru: hubungan yang semakin kuat dengan PCIM Malaysia, peluang kerja sama pendidikan dan dakwah, jejaring kepemudaan yang semakin luas, serta pengalaman yang dapat membantu mempersiapkan Muktamar ke-49 tahun 2027.

Semangat seperti ini sangat sejalan dengan Islam Berkemajuan: terbuka terhadap ilmu, mau belajar dari pengalaman, membangun kolaborasi dan menghadirkan kemanfaatan.

Maka, dari Medan ke Malaysia, sesungguhnya kita sedang melihat sebuah perjalanan yang sederhana tetapi memiliki makna yang besar.

Dekat jaraknya, relatif terjangkau biayanya, internasional pengalamannya, serumpun budayanya, dan kuat jejaring Muhammadiyahnya.

Semoga perjalanan empat hari ini tidak hanya menjadi kenangan bagi mereka yang ikut serta, tetapi menjadi energi baru bagi Muhammadiyah Kota Medan untuk bergerak lebih terbuka, lebih percaya diri dan semakin berkemajuan.

Berangkat untuk refreshing, belajar dan bersilaturahmi; pulang membawa inspirasi untuk menguatkan gerakan.

Karena perjalanan yang baik bukanlah perjalanan yang membuat kita sekadar pergi jauh, tetapi perjalanan yang membuat kita pulang dengan wawasan yang lebih luas, silaturahmi yang lebih kuat, dan semangat yang lebih besar untuk membangun.

Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni