Mentan Pangkas Anggaran Rp3,7 Triliun, Dana Rapat Hotel dan Perjalanan Dinas Dialihkan untuk Petani

Nasional, Politik49 Dilihat

JAKARTA — Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman melakukan refocusing dan efisiensi anggaran Kementerian Pertanian (Kementan) sebesar Rp3,7 triliun. Anggaran yang sebelumnya dialokasikan untuk rapat di hotel, hadiah, kegiatan seremonial, dan perjalanan dinas dipangkas untuk memprioritaskan kebutuhan petani, peternak, dan pekebun Indonesia.

Kebijakan tersebut disampaikan Amran seusai menggelar rapat koordinasi kemitraan jagung pakan bersama lebih dari 1.000 peternak di Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan, Selasa (27/10/2026). Pertemuan itu juga menghasilkan kesepakatan mengenai langkah-langkah menjaga harga pakan ternak agar tetap terkendali.

Amran menegaskan, Kementan memilih mengoptimalkan anggaran yang tersedia tanpa meminta tambahan dana. Salah satu langkahnya adalah mengurangi pengeluaran untuk kegiatan yang dinilai dapat dilaksanakan dengan biaya lebih efisien.

“Alhamdulillah kami refocusing, kami tidak minta tambah anggaran. Anggaran rapat di hotel, nggak ada rapat hotel, rapat di sini. Anggaran bunga, anggaran hadiah, anggaran perjalanan dinas, kami rampingkan, kami refocusing,” ujar Amran.

BACA JUGA :  Presiden Prabowo dan PM Takaichi Satukan Langkah: Indonesia dan Jepang Siap Jadi Pilar Stabilitas Dunia

Ia menjelaskan, dari total anggaran Rp3,7 triliun yang diefisienkan, hampir Rp1 triliun dialihkan untuk mendukung kebutuhan peternak Indonesia. Menurutnya, penghematan anggaran tidak boleh menghambat pelaksanaan pekerjaan, selama kegiatan tetap dapat berjalan secara efektif.

“Kalau kita bisa rapat, jangankan di kantor, di bawah pohon pun bisa dan itu pekerjaan tetap jalan. Jadi sekali lagi, kita dahulukan petani, peternak, pekebun Indonesia,” katanya.

Siapkan Rp1 Triliun untuk Penguatan Ekosistem Jagung

Sebelumnya, Amran juga menyiapkan anggaran Rp1 triliun untuk penyediaan benih jagung dan sarana pendukung guna menjamin ketersediaan bahan baku pakan ternak.

Anggaran tersebut diarahkan untuk membangun ekosistem jagung dari hulu hingga hilir melalui kemitraan antara petani jagung dan peternak dalam wadah koperasi. Skema ini diharapkan mampu memperkuat rantai pasok sekaligus memberikan kepastian bagi produsen jagung dan pelaku usaha peternakan.

BACA JUGA :  Temuan Anyar Dugaan Korupsi Proyek Multi Years Rp2,7 Triliun, APH Diminta Turun Tangan Periksa Terduga Pelaku

Kebutuhan jagung nasional untuk pakan diperkirakan mencapai 1,8 juta ton per tahun. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, pemerintah mendorong penanaman jagung di lahan seluas 300.000 hektare dengan estimasi produksi mencapai 2,1 juta ton.

Dengan proyeksi tersebut, produksi jagung diharapkan dapat mencukupi kebutuhan nasional sekaligus mengurangi tekanan biaya bahan baku bagi industri peternakan.

Pemerintah Kendalikan Harga Bahan Baku Pakan

Selain memperkuat produksi jagung dalam negeri, pemerintah juga mengambil langkah untuk mengendalikan harga impor soybean meal (SBM) atau bungkil kedelai, salah satu bahan baku pakan ternak.

BACA JUGA :  Temuan Anyar Dugaan Korupsi Proyek Multi Years Rp2,7 Triliun, Kejatisu Akan Lakukan Penyelidikan

Pemerintah menetapkan harga SBM impor melalui ID Food maksimal Rp8.630 per kilogram. Kebijakan ini ditujukan untuk mencegah kenaikan biaya pakan yang dapat membebani peternak.

Amran menyebut harga SBM di tingkat pengusaha dapat mencapai Rp12.000 per kilogram. Karena itu, pemerintah mengarahkan impor SBM melalui BUMN pangan agar pengadaan dan distribusinya dapat dikelola dengan harga yang lebih terkendali.

Melalui efisiensi anggaran, penguatan produksi jagung, dan pengendalian harga bahan baku pakan, Kementan berupaya menjaga keberlangsungan usaha peternakan sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.

Pemerintah berharap langkah tersebut dapat memberikan manfaat langsung bagi petani dan peternak, terutama dalam menjaga ketersediaan pakan serta menekan biaya produksi di tengah kebutuhan pangan nasional yang terus meningkat. (bc/isl)