Jelang Sumpah Pemuda, Aidil Yasin Ma’ruf Soroti Apatisme Politik Generasi Muda

Sumut168 Dilihat

MEDAN – Menjelang peringatan Hari Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 2026, Ketua Himpunan Mahasiswa Politik Indonesia Sumatera sekaligus Ketua HMJ Pemikiran Politik Islam UINSU Medan, Aidil Yasin Ma’ruf, menyoroti fenomena apatisme politik di kalangan generasi muda yang dinilainya sebagai persoalan serius dan perlu mendapat perhatian bersama.

Menurut Aidil, ketidakpedulian pemuda terhadap politik dapat dipicu oleh menurunnya kepercayaan terhadap aktor politik, maraknya penyalahgunaan kekuasaan, serta anggapan bahwa politik tidak memberikan dampak nyata bagi kehidupan masyarakat.

“Persoalannya hari ini bukan sekadar pemuda tidak tertarik dengan politik, tetapi bagaimana politik mulai kehilangan kepercayaan di mata generasi muda. Ketika politik hanya dipertontonkan sebagai perebutan kekuasaan, transaksi kepentingan, dan janji-janji yang tidak ditepati, jangan heran jika banyak anak muda memilih untuk tidak peduli. Namun, kita juga harus memahami bahwa menjauh dari politik bukan berarti kita terbebas dari dampak kebijakan politik itu sendiri,” tegas Aidil kepada wartawan, Selasa (27/10/2026).

BACA JUGA :  PRSI Hadir di Sumut, Siap Berkolaborasi dengan Pemerintah dan Swasta dalam Pengembangan Robotika

Ia menegaskan, mahasiswa tidak boleh terjebak dalam sikap apatis ataupun sekadar mengikuti arus politik tanpa pemahaman yang memadai. Sebaliknya, mahasiswa harus mampu menempatkan diri sebagai kelompok intelektual yang kritis, objektif, dan berani mengawasi jalannya kekuasaan.

Menurutnya, kesadaran politik tidak harus diwujudkan dengan bergabung ke partai politik atau terjun langsung menjadi politisi. Hal yang lebih mendasar adalah kemampuan memahami persoalan publik, mengkritisi kebijakan yang tidak berpihak kepada masyarakat, serta menyaring informasi agar tidak mudah terpengaruh propaganda politik.

“Kita tidak sedang berbicara bahwa semua pemuda harus masuk ke partai politik atau menjadi politisi. Namun, setiap pemuda harus memiliki kesadaran politik. Minimal, kita memahami persoalan publik, berani mengkritisi kebijakan yang tidak berpihak kepada masyarakat, dan tidak mudah dimanipulasi oleh propaganda politik. Jangan sampai ketidakpedulian kita justru menjadi keuntungan bagi pihak-pihak yang ingin menjalankan kekuasaan tanpa pengawasan,” tambahnya.

BACA JUGA :  Sumut Raih Predikat UHC Prioritas, Bobby Minta Layanan UHC Optimal Diterima Masyarakat

Lebih lanjut, Aidil menjelaskan bahwa dalam perspektif politik Islam, praktik politik harus berlandaskan nilai-nilai amanah, keadilan, tanggung jawab, dan kemaslahatan masyarakat.

Oleh karena itu, kesadaran politik generasi muda tidak boleh berhenti pada pemahaman mengenai perebutan kekuasaan. Lebih dari itu, pemuda harus berperan dalam memastikan kekuasaan dijalankan secara bertanggung jawab dan berorientasi pada kepentingan rakyat.

“Bagi saya, pemuda yang ideal bukanlah pemuda yang selalu membenarkan penguasa, tetapi juga bukan mereka yang sekadar menolak segala sesuatu tanpa dasar. Pemuda harus berani bersikap kritis, menggunakan data, menjaga integritas, dan berpihak pada kebenaran. Jangan sampai kita lantang di media sosial, tetapi diam ketika persoalan nyata terjadi di tengah masyarakat. Politik membutuhkan pemuda yang sadar, bukan pemuda yang sekadar ramai,” tutup Aidil.

BACA JUGA :  Petugas Kloter 9 KNO Antisipasi Penurunan Daya Fisik Jemaah Haji

Menjelang peringatan Sumpah Pemuda, pesan Aidil menjadi pengingat bahwa semangat kepemudaan tidak cukup diwujudkan melalui seremoni tahunan. Semangat tersebut juga perlu diterjemahkan menjadi partisipasi publik, keberanian menyampaikan kritik secara bertanggung jawab, serta kepedulian terhadap persoalan bangsa.

Dengan kesadaran politik yang kuat, generasi muda diharapkan mampu menjadi kekuatan moral dan intelektual yang turut mengawal demokrasi serta mendorong terwujudnya kehidupan masyarakat yang lebih adil. (r/isl)