JAKARTA — Konflik antara Iran dan Amerika Serikat diperkirakan masih jauh dari kata berakhir. Penilaian intelijen terbaru Amerika Serikat menunjukkan Teheran semakin percaya diri terhadap kemampuan militernya, baik untuk menghadapi serangan maupun melancarkan serangan ke pangkalan-pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah.
Kondisi tersebut menjadi sinyal bahwa Iran belum menunjukkan keinginan kuat untuk menghentikan konflik dalam waktu dekat.
Sejumlah pejabat Amerika Serikat yang dikutip dalam laporan intelijen menilai belum terdapat indikasi yang cukup bahwa Teheran bersedia memenuhi tuntutan Washington sebagai syarat untuk membuka jalan menuju kesepakatan dan penghentian konflik.
Situasi ini meningkatkan kekhawatiran bahwa perang dapat memasuki fase yang lebih panjang. Iran dinilai masih memiliki keyakinan terhadap kemampuan militernya untuk mempertahankan tekanan terhadap AS, sementara Washington sendiri masih menghadapi ketidakpastian mengenai kapan konflik tersebut dapat diakhiri.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya juga belum memberikan kepastian mengenai kapan pertikaian dengan Iran akan berakhir. Trump bahkan menyatakan dirinya tidak mengetahui kapan konflik tersebut akan selesai.
Ketidakpastian semakin menjadi perhatian karena Amerika Serikat menghadapi momentum politik penting. Pemilihan paruh waktu atau midterm election dijadwalkan berlangsung pada 3 November.
Hingga kini, belum terlihat tanda kuat bahwa Iran akan mengubah sikapnya sebelum momentum politik tersebut tiba.
Jika konflik terus berlangsung, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh Iran dan Amerika Serikat. Ketegangan berkepanjangan berpotensi meningkatkan risiko keamanan di kawasan Timur Tengah, mengganggu stabilitas regional, serta memunculkan dampak ekonomi dan geopolitik yang lebih luas.
Dengan kondisi tersebut, perang Iran-AS masih menghadapi jalan panjang dan belum menunjukkan titik akhir yang jelas. (bc/isl)
