MEDAN — Ancaman bonus demografi menjadi beban demografi mulai menjadi perhatian serius dalam agenda Pertemuan Kelima Sekolah Peradaban: Simposium Filosofis bertajuk “Pemuda dan Hilangnya Imajinasi Masa Depan”.
Kegiatan yang digelar Premature Authoring Hub tersebut berlangsung Kamis malam (27/8/2026) di 38 Coffee House, Jalan Eka Bakti No. 38, Medan.
Simposium itu sendiri menghadirkan tiga narasumber, yakni Ketua Perkumpulan Masyarakat Demokrasi 14 Sumatera Utara (PD 14 Sumut) Muhri Fauzi Hafiz, Aktivis Wanita Diva Melisa, serta Formateur Direktur LKBH HMI Cabang Medan Hauzaan Abid.
Dalam pemaparannya, Muhri Fauzi Hafiz menilai persoalan pemuda saat ini tidak cukup dilihat hanya dari sisi hilangnya cita-cita atau motivasi individu. Menurutnya, fenomena tersebut berkaitan erat dengan persoalan struktural yang membatasi ruang tumbuh, kesempatan, dan partisipasi generasi muda.
“Imajinasi masa depan adalah kesanggupan generasi muda melihat dirinya bukan sekadar konsumen perubahan, melainkan perancang dan agen perubahan itu sendiri,” ujar Muhri.
Ia mengatakan, ketika pemuda lebih banyak disibukkan untuk sekadar bertahan hidup atau terjebak dalam budaya validasi instan di ruang digital, Indonesia berisiko kehilangan kapasitas kolektif generasi mudanya.
Bonus Demografi Belum Otomatis Jadi Kekuatan
Muhri mengungkapkan, berdasarkan data BPS 2024, jumlah penduduk pemuda berusia 16–30 tahun mencapai sekitar 64,22 juta jiwa, atau sekitar seperlima dari total penduduk Indonesia.
Jumlah tersebut semestinya menjadi modal besar bagi Indonesia dalam menghadapi Indonesia Emas 2045. Namun, besarnya populasi pemuda belum otomatis berubah menjadi kekuatan pembangunan.
Salah satu persoalan yang disoroti adalah tingginya pengangguran usia muda. Data BPS per Februari 2026 mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) kelompok usia 15–24 tahun mencapai 16,36 persen, jauh di atas TPT nasional yang berada di angka 4,68 persen.
Persoalan lainnya adalah tingginya jumlah pemuda yang masuk kategori Youth Not in Education, Employment, or Training (NEET).
Pada 2025, rata-rata Youth NEET nasional tercatat 19,44 persen. Artinya, hampir satu dari lima pemuda Indonesia berada di luar jalur pendidikan, pekerjaan, maupun pelatihan. Di Sumatera Utara, angkanya tercatat 17,42 persen.
Di sisi lain, Muhri juga menyoroti perkembangan Indeks Pembangunan Pemuda (IPP). Meski IPP meningkat menjadi 58,33 pada 2024, laju peningkatannya dinilai masih relatif lambat, dengan rata-rata pertumbuhan kurang dari satu poin per tahun selama satu dekade.
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa tantangan pembangunan pemuda bukan hanya persoalan kuantitas, tetapi juga kualitas, kesempatan, kepemimpinan, dan ruang partisipasi.
Jangan Biarkan Bonus Demografi Menjadi Beban
Simposium Sekolah Peradaban kemudian merumuskan sejumlah rekomendasi untuk mencegah bonus demografi berubah menjadi demographic burden atau beban demografi.
Dari sisi pemerintah, diperlukan penguatan sinergi atau link and match antara kurikulum pendidikan vokasi dan perguruan tinggi dengan kebutuhan industri di daerah. Pemerintah juga didorong merancang program afirmatif berbasis wilayah bagi kelompok pemuda yang masuk kategori NEET, termasuk di Sumatera Utara.
Sementara dunia usaha diharapkan membuka lebih banyak program magang berbayar yang terstruktur sekaligus memberikan akses terhadap pelatihan keterampilan digital dan bidang STEAM.
Adapun dunia pendidikan dan komunitas didorong untuk mengintegrasikan pendidikan kewirausahaan, literasi keuangan, serta ruang dialog publik berbasis data.
Langkah tersebut dinilai penting agar pemuda tidak hanya menjadi objek kebijakan, tetapi turut menjadi subjek dalam proses perumusan kebijakan publik.
Muhri menegaskan, pembicaraan mengenai Indonesia Emas 2045 tidak boleh berhenti pada proyeksi pertumbuhan ekonomi dan jumlah penduduk produktif.
“Indonesia Emas 2045 bukan sekadar kalkulasi angka ekonomi makro. Sebuah bangsa bisa kehilangan masa depannya bukan karena kekurangan sumber daya, tetapi karena generasi mudanya berhenti membayangkan dan memperjuangkan masa depan,” pungkasnya. (r/isl)
